kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Pemerintah Tarik Pinjaman Lebih Banyak, Ekonom: Mungkin untuk Jaga Imbal Hasil SBN


Jumat, 12 Juli 2024 / 14:43 WIB
Pemerintah Tarik Pinjaman Lebih Banyak, Ekonom: Mungkin untuk Jaga Imbal Hasil SBN
ILUSTRASI. Pemerintah memutuskan untuk meningkatkan penarikan pinjaman dan mengurangi penerbitan surat berharga negara (SBN).


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memutuskan untuk meningkatkan penarikan pinjaman dan mengurangi penerbitan surat berharga negara (SBN). Dalam APBN 2024, pinjaman hanya ditargetkan sebesar Rp 18,4 triliun, namun target tersebut naik menjadi Rp 101,3 triliun. 

Sementara itu, target penerbitan SBN justru turun, dari semula sebesar Rp 666,4 triliun menjadi Rp 451,9 triliun.

Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalia Situmorang menilai, pemerintah lebih memilih opsi menaikkan pinjaman dan menurunkan penerbitan SBN, kemungkinan karena bunga pinjaman lebih murah dibandingkan dengan pembayaran kupon ke investor pemegang SBN.

Baca Juga: Pemerintah Pilih Opsi Tingkatkan Pinjaman dan Kurangi Penerbitkan Surat Utang

Disamping itu, ia juga menilai kemungkinan keputusan tersebut dipilih lantaran pemerintah ingin menjaga kestabilan imbal hasil SBN.

Sebab lanjutnya, jika penerbitan SBN naik, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan imbal hasil SBN menjadi naik. Imbasnya bisa menyebabkan harga obligasi turun, dan akan merugikan para investor.

“Jadi alasannya lebih ke oportunitas dan menjaga kestabilan yield SBN,” tutur Ana sapaan akrab Hosianna kepada Kontan, Jumat (12/7).

Ia juga menyampaikan, dengan pengurangan penerbitan SBN, harapannya imbal hasil SBN bisa stabil.

Hal tersebut juga berkaitan dengan antisipasi dari kenaikan imbal hasil SBN akibat imbal hasil dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang tinggi di kisaran 7,3% hingga 7,5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×