kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.909   -3,89   -0,07%
  • KOMPAS100 768   -0,64   -0,08%
  • LQ45 587   -0,12   -0,02%
  • ISSI 204   0,32   0,16%
  • IDX30 332   -0,36   -0,11%
  • IDXHIDIV20 412   0,28   0,07%
  • IDX80 88   0,03   0,04%
  • IDXV30 112   0,65   0,58%
  • IDXQ30 107   -0,28   -0,26%

Pemerintah Minta Tambang Pakai B50, Zubay Mining: Info Harga B50 Rp 16.000/Liter


Jumat, 10 Juli 2026 / 15:08 WIB
Pemerintah Minta Tambang Pakai B50, Zubay Mining: Info Harga B50 Rp 16.000/Liter
ILUSTRASI. Bahan bakar B40 (Dok/KPI)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah pemerintah yang meminta sektor pertambangan untuk menggunakan bahan bakar nabati jenis B50 mulai memicu respons pelaku usaha. 

PT Zubay Mining Indonesia menyatakan bahwa hingga saat ini perseroan belum mengadopsi bahan bakar tersebut dalam kegiatan operasionalnya dan masih memantau perkembangan regulasi.

Direktur PT Zubay Mining Indonesia, Muhammad Emil mengungkapkan,  perusahaan saat ini masih mengandalkan bahan bakar konvensional untuk menggerakkan seluruh armada alat berat di area tambang. 

"Saat ini perusahaan kami masih menggunakan solar industri dengan harga sekitar Rp 30.500 per liter dan belum menggunakan B50. Berdasarkan informasi yang kami terima, harga B50 berada di kisaran Rp16.000 per liter," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga: APBI Buka Suara Ada Potensi Kenaikan Biaya Operasional Akibat Mandatori Biodiesel B50

Kendati menawarkan harga yang kompetitif, Emil menilai faktor keekonomian bukan satu-satunya penentu keberhasilan implementasi bauran energi ini di lapangan. 

"Namun, selain harga, kami juga masih menunggu kepastian mengenai ketersediaan pasokan, spesifikasi teknis, serta kompatibilitasnya terhadap alat berat yang kami operasikan," terangnya.

Emil menambahkan bahwa biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam kegiatan penambangan perusahaan selama ini. 

"Apabila implementasi B50 berjalan baik dan performa alat tetap optimal tanpa meningkatkan konsumsi bahan bakar maupun biaya perawatan, maka penggunaan B50 berpotensi memberikan efisiensi biaya operasional," katanya.

Lebih lanjut, Emil menambahkan, pihaknya siap mendukung implementasi B50 tersebut. Namun, ia menekankan terkait kepastian pasokan hingga kualitas yang optimal.

"Kami pada prinsipnya mendukung kebijakan pemerintah dan akan mengikuti ketentuan yang berlaku. Yang terpenting bagi pelaku usaha adalah adanya kepastian pasokan, kualitas bahan bakar yang konsisten," pungkasnya.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora menyatakan, kesiapan infrastruktur dari hulu hingga ke hilir telah dimatangkan sebelum peluncuran resmi B50 dilakukan.

"Terkait implementasi B50 dapat kami sampaikan bahwa Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan infrastruktur penyaluran B50 dari mulai Terminal BBM hingga ke lembaga penyalur (SPBU, APMS)," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (2/7/2026). 

Baca Juga: Mandatori B50 Dimulai 1 Juli 2026, Riset Ini Ungkap Potensi Kerugian Rp 409 T

Kitty mengungkapkan, pada tahap awal implementasi ini, pihaknya langsung mengoperasikan puluhan terminal bahan bakar untuk menyalurkan produk anyar tersebut secara serentak ke berbagai wilayah.  

"Ada 29 dari 126 terminal Pertamina telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026 sesuai arahan dari pemerintah. Jumlah 29 tersebut akan terus bertambah secara bertahap selama masa transisi," ungkapnya. 

Kitty menyebutkan, volume pasokan yang disiapkan untuk memasok kebutuhan masyarakat di masa awal ini tercatat mencapai puluhan juta liter.

"Untuk tahap awal mulai 1 Juli kemarin, kami siap untuk mendistribusikan 37,92 juta liter dari 29 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di atas. 29 TBBM ini mencakup sebagian besar Sumatera, sebagian besar Jawa, Balikpapan dan Makassar," terangnya. 

Lebih lanjut, Kitty menambahkan, pihaknya bakal terus mengawal jalannya proses transisi ini demi menjaga keandalan pasokan energi di lapangan.  

"Kami masih terus melakukan monitoring untuk memastikan distribusi B50 sampai ke lembaga penyalur dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat berjalan lancar," pungkasnya.

Baca Juga: Jelang B50 Berlaku, APBI Wanti-wanti Risiko Teknis dan Beban Biaya Industri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×