Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Program biodiesel B50 yang baru diluncurkan pemerintah akan memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional. Selain memperkuat ketahanan energi, program tersebut diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 177 triliun atau setara sekitar US$ 10 miliar per tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan program B50 akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Dengan demikian, kebutuhan devisa untuk impor bahan bakar dapat ditekan secara signifikan.
"Indonesia dapat menghemat sekitar Rp 177 triliun devisa karena tidak perlu lagi mengimpor sebagian kebutuhan energi. Nilainya setara sekitar US$ 10 miliar," ungkap Airlangga dalam agenda Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Kemenko Perekonomian, Jumat (10/7/2026).
Baca Juga: Prabowo Bertolak ke NTB, Resmikan Lima Bendungan Sekaligus
Airlangga mengatakan Indonesia telah mengembangkan program biodiesel selama delapan tahun. Peluncuran B50 menjadi tonggak penting karena Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel hingga 50%.
"Program biodiesel B50 yang baru saja diluncurkan Presiden Prabowo merupakan tonggak penting. Indonesia telah mengembangkan biodiesel selama delapan tahun, dan B50 merupakan program pertama di dunia. Belum ada negara lain yang menerapkan campuran biodiesel hingga 50%," ujar Airlangga.
Menurutnya, keberhasilan implementasi B50 tidak lepas dari dukungan sumber daya kelapa sawit yang melimpah di Indonesia. Pemanfaatan bahan bakar nabati tersebut juga berkontribusi terhadap upaya pemerintah mencapai target emisi nol bersih (net zero emission).
Airlangga menyebut, melalui program biodiesel B50, Indonesia mampu menekan emisi karbon hingga sekitar 44 juta ton karbon dioksida (CO2) setiap tahun.
Baca Juga: DJP Catat Restitusi Pajak Turun 31,5% Jadi Rp 171,2 Triliun pada Semester I-2026
"Melalui program biodiesel ini, Indonesia mampu mengurangi emisi karbon hingga 44 juta ton CO2 setiap tahun. Program tersebut juga mendukung target Indonesia menuju emisi nol bersih (net zero emission)," katanya.
Pemerintah berharap implementasi B50 dapat menjadi salah satu pilar dalam memperkuat kemandirian energi nasional, sekaligus mendukung hilirisasi industri berbasis kelapa sawit dan mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














