Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelombang aksi unjuk rasa yang terus berlangsung dikhawatirkan menimbulkan efek berantai terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo, menilai pemulihan kepercayaan pasar menjadi kunci utama untuk meredam dampak berlarutnya aksi unjuk rasa terhadap perekonomian nasional.
“Restore market confidence (memulihkan kepercayaan pasar) diperlukan, tanpa adanya excessive force (kekuatan yang berlebihan),” tutur Banjaran kepada Kontan, Minggu (21/8/2025).
Menurutnya, gejolak di lapangan akibat aksi unjuk rasa ini berpotensi memengaruhi sektor keuangan, terutama pada sisi likuiditas. Ia menekankan bahwa perbankan perlu menjaga cadangan kas untuk mengantisipasi penarikan tunai, sementara penyaluran kredit bisa terdampak apabila situasi berlangsung berkepanjangan.
Baca Juga: Kemenko Perekonomian Berharap Unjuk Rasa Tak Berdampak Lebih Lanjut pada Ekonomi RI
Sebagaimana diketahui, penyaluran kredit saat ini juga tercatat terus melemah. Hal ini tercermin dari catatan Bank Indoensia (BI), yang menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit konsumsi perbankan secara industri per Juli hanya 8,11% year-on-year (YoY). Ini bahkan dicatat terus melemah, mengingat kredit konsumsi per bulan Juni 2025 tumbuh 8,49% YoY.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Banjaran menekankan agar pemerintah segera mempercepat belanja fiskal, khususnya untuk bantuan sosial, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Sebagaimana diketahui, realisasi belanja bansos pada semester I 2025 sudah mencapai Rp 78 triliun, 57,7% dari target yang tercantum dalam APBN. Bila dibandingkan dengan semester I 2024, realisasi bansos pada semester I 2025 hanya tumbuh sebesar 2,9%.
Baca Juga: Demo Masih Terus Berlangsung, Kadin Jakarta: Pengusaha Takut Membuka Usaha
Penyelenggaraan bazar sembako juga dinilai penting agar tekanan konsumsi rumah tangga tidak semakin berat. Hal ini lantaran, kondisi pendapatan masyarakat saat ini terbatas dibandingkan dengan pengeluaran.
Ia menjelaskan bahwa daya beli masyarakat tertekan dari waktu ke waktu karena laju kenaikan pendapatan tidak secepat peningkatan pengeluaran.
Ia menambahkan bahwa, tekanan pendapatan masyarakat tersebut terutama disebabkan oleh perubahan struktur ekonomi dan ketenagakerjaan yang terjadi selama proses digitalisasi serta pandemi Covid-19, khususnya dalam rentang 2005 hingga 2025.
“Perlu ada bazar sembako juga. Kita kejar-kejaran dengan waktu,” jelasnya.
Baca Juga: Ekonom: Aksi Unjuk Rasa Berlarut Akan Memperburuk Iklim Investasi
Selanjutnya: Nusantara Sejahtera Raya Kejar Pertumbuhan Kinerja Semester II-2025, Ini Strateginya
Menarik Dibaca: Keunggulan Vivo Y500: Dari Desain Modern hingga Daya Tahan Super
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News