kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Ekonom: Aksi Unjuk Rasa Berlarut Akan Memperburuk Iklim Investasi


Jumat, 29 Agustus 2025 / 15:27 WIB
Ekonom: Aksi Unjuk Rasa Berlarut Akan Memperburuk Iklim Investasi
ILUSTRASI. Aksi demonstrasi yang berlangsung sepekan terakhir ini dinilai berpotensi memperburuk iklim investasi di Indonesia.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aksi demonstrasi yang berlangsung sepekan terakhir ini dinilai berpotensi memperburuk iklim investasi di Indonesia. Gelombang protes yang berlangsung belakangan ini bukan hanya menimbulkan kekhawatiran sosial, tetapi juga menambah tekanan pada kondisi ekonomi yang sudah menghadapi tantangan global.

Sebagaimana diketahui, aksi unjuk rasa merupakan bentuk protes masyarakat usai anggota DPR RI dikabarkan mendapat gaji dan tunjangan fantastis.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, keresahan investor tidak semata-mata muncul dari aksi massa.

Baca Juga: Kisruh Demo Soal Gaji dan Tunjangan DPR Hari Ini, Dinilai Bisa Ganggu Iklim Investasi

“Ibarat puncak gunung es, investor justru membaca masalah fundamental ekonomi Indonesia yang belum diselesaikan, sehingga timbul distrust bukan dari aksi demo nya tapi dari kegagalan kebijakan ekonomi pemerintah,” tutur Bhima kepada Kontan, Jumat (29/8/2025).

Bhima mengingatkan, dampak positif dari perbaikan ekonomi global berisiko terlewatkan oleh Indonesia jika daya beli domestik yang rendah bertemu dengan gelombang ketidakpuasan publik.

Menurutnya, relokasi pabrik dari luar negeri untuk menghindari kenaikan tarif Amerika Serikat (AS) pun bisa batal masuk ke Indonesia karena kondisi politik dan sosial yang belum stabil.

Baca Juga: Wakil Menteri Investasi: Rp 2.000 Triliun Investasi Gagal Masuk Indonesia

“Efeknya realisasi investasi di luar pembelian barang alutsista akan merosot. Akhirnya data investasinya semu karena belanja pertahanan terus naik,” katanya menambahkan.

Selain itu, Bhima menyoroti bahwa investasi yang tetap terealisasi cenderung bersifat padat modal, bukan padat karya. Artinya, penciptaan lapangan kerja baru akan terbatas, sehingga pemulihan ekonomi tidak bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat

Ia juga menekankan, dalam kondisi sekarang, investor global akan cenderung melakukan evaluasi ulang terhadap risiko politik di Indonesia sebelum melanjutkan rencana ekspansi.

Selanjutnya: Properti Tangerang Tetap Bergairah, Paramount Land Siapkan Strategi Paruh Kedua 2025

Menarik Dibaca: QRIS Livin by Mandiri Dapat Digunakan di Jepang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×