kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pemerintah Bidik Cadangan Devisa RI Hingga US$ 153,7 Miliar di 2025


Minggu, 21 April 2024 / 10:09 WIB
Pemerintah Bidik Cadangan Devisa RI Hingga US$ 153,7 Miliar di 2025
ILUSTRASI. Pada akhir tahun 2025 nanti, pemerintah membidik cadangan devisa mencapai US$ 149,5 miliar hingga US$ 153,7 miliar ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus memperkuat potensi cadangan devisa Indonesia dengan tujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Oleh karena itu, pada akhir tahun 2025 nanti, pemerintah membidik cadangan devisa mencapai US$ 149,5 miliar hingga US$ 153,7 miliar atau setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor dan berada di atas kecukupan standar internasional.

Target  tersebut tercantum dalam dokumen Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025. 

Sementara pada akhir tahun 2024, cadangan devisa Indonesia akan mencapai US$ 147 miliar yang mampu untuk membiayai 6,3 bulan impor.

"Stabilitas eksternal Indonesia akan semakin menguat pada tahun 2025 karena berhasil melewati periode krusial sebelumnya dengan baik yaitu tahun politik dan transisi pergantian kepemimpinan," bunyi dokumen RKP 2025.

Baca Juga: Evaluasi DHE SDA, Ekonom Usul Pemerintah Beri Insentif Dana Darurat Bagi Eksportir

Pada tahun 2025, neraca perdagangan barang ditargetkan surplus pada kisaran US$ 43,4 miliar hingga US$ 43,9 miliar seiring dengan peningkatan ekspor produk berteknologi menengah tinggi, produk industri penyerap tenaga kerja tinggi, produk jasa dan kreatif, produk usaha mikro, kecil dan menengah, serta produk pertanian, perikanan dan industri berbasis sumber daya alam.

Adapun defisit neraca jasa-jasa mengalami penurunan menjadi US$ 16,2 miliar -US$ 15,0 miliar, dikontribusikan oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara yang semakin signifikan ke Indonesia sehingga meningkatkan surplus neraca jasa perjalanan. 

Adapun defisit neraca pendapatan primer berada pada rentang US$36,7 miliar hingga US$ 37,5 miliar, meningkat secara terkendali untuk membiayai imbal hasil investasi asing. 

Neraca pendapatan sekunder terus mencatat surplus yang cukup tinggi menjadi sebesar US$ 5,6 miliar hingga US$ 5,9 miliar, didorong oleh peningkatan keterampilan, jumlah penempatan, dan sektor lapangan penduduk migran Indonesia di luar negeri yang semakin kompetitif. 

Baca Juga: Nasib Rupiah Masih Merana, Skenario Terburuk Bisa Menyentuh Rp 17.000 Per Dolar AS

Selanjutnya, neraca transaksi modal dan finansial terus mengalami perkembangan yang baik sehingga mencapai kisaran US$ 9,2 miliar hingga US$ 10,1 miliar. 

"Peningkatan tersebut selaras dengan investasi langsung yang konsisten mencatat surplus dan mengalami kenaikan menjadi US$ 15,1 miliar hingga US$ 15,5 miliar, sejalan dengan keberlanjutan berbagai proyek strategis pemerintah dan iklim dunia usaha yang kondusif sehingga membuat para investor tetap percaya terhadap prospek perekonomian Indonesia," tulisnya.

Sementara, investasi portofolio diharapkan dapat terus berkembang mencapai rentang US$ 2,8 miliar hingga US$ 3,3 miliar, sehingga membuat pasar keuangan dan likuiditas tetap terjaga dalam mendorong akselerasi sektor riil.

"Pada akhir tahun 2025, neraca keseluruhan akan berada pada rentang US$ 2,5 miliar-US$ 6,8 miliar," bunyi dokumen tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×