kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Pelaku usaha mengaku belum merasakan efektivitas perjanjian dagang


Senin, 16 November 2020 / 17:32 WIB
ILUSTRASI. Kegiatan operasional terminal peti kemas Belawan.


Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Noverius Laoli

"Biaya logistiknya tinggi sementara volume perdagangannya sedikit, jadi secara ekonomi tidak lucrative untuk eksportir," jelas Shinta.

Seperti pada IC-CEPA dimana Indonesia belum banyak memanfaatkan perjanjian tersebut. Perjanjian yang telah efektif berjalan Agustus 2019 itu masih belum banyak mendongkrak ekspor.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan pada tahun 2019 Indonesia mengalami defisit neraca dagang dari Chile sebesar US$ 22,43 juta. Namun, periode Januari - September 2020 Indonesia surplus atas Chile sebesar US$ 12,97 juta.

Selain masalah pengenalan pasar, masalah lambatnya ratifikasi juga menjadi penjegal efektifitas perjanjian dagang. Salah satu perjanjian dagang yang masih belum diratifikasi saat ini adalah Indonesia - EFTA CEPA.

Padahal perjanjian yang selesai November 2018 lalu itu dianggap penting oleh pelaku usaha. Perjanjian dengan 4 negara EFTA itu dinilai bisa menjadi pintu masuk bagi perjanjian Indonesia - Uni Eropa CEPA yang masih dalam perundingan saat ini.

Baca Juga: Mendag janji RCEP tidak akan membuat Indonesia kebanjiran impor

Pandemi virus corona (Covid-19) yang terjadi saat ini pun menjadi kendala efektifnya perjanjian dagang. Salah satunya IA-CEPA yang tekah dinantikan oleh pelaku usaha.

"Kendalanya hanya kendala penurunan demand pasar karena Covid-19 dan kendala penutupan perbatasan sehingga pertumbuhan kegiatan ekonomi semakin sulit," ungkap Shinta.

Padahal telah ada sejumlah kerja sama yang disiapkan dalam memaksimalkan IA-CEPA. Termasuk pertukaran pekerja terampil untuk meningkatkan keterampilan pekerja Indonesia.

Sebagai informasi saat ini Indonesia mencatatkan nilai ekspor periode Januari hingga September 2020 sebesar US$ 117,19 miliar. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 5,81% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Selanjutnya: Wamendag sebut penandatanganan RCEP merupakan hasil arahan Jokowi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×