kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pascapemilu, DBS prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa bertahan di level 5%


Selasa, 20 Agustus 2019 / 15:43 WIB

Pascapemilu, DBS prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa bertahan di level 5%
ILUSTRASI. Pascapemilu, DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa bertahan di level 5%

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank DBS memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di level 5,0% (yoy) atau lebih pada tahun ini. Biasanya pasca pemilu, pertumbuhan ekonomi akan menggeliat.

Ini merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun pemilu yakni tahun 1999, 2004, 2009, dan tahun 2014. "Secara rata-rata, pertumbuhan menurun pada dua kuartal sebelum pemilu. Namun, menguat sekitar 0,7% dalam kuartal berikutnya," kata ekonom Bank DBS Masyita Crystallin, Selasa (20/8).

Baca Juga: Manulife: Menyambut era suku bunga rendah, IHSG bisa ke 6.800

Bila tren bertahan seperti ini, maka Indonesia bisa mencetak angka pertumbuhan ekonomi minimal 5,0% pada tahun ini. Pascapemilu juga akan mendorong perubahan dari tingkat konsumsi, sisi investasi, fiskal, dan juga kebijakan moneter yang ada di Indonesia.

Dari hasil riset DBS, konsumsi Indonesia meningkat signifikan sebelum pemilu. Namun, kembali normal setelah pesta demokrasi berakhir.

Sementara pertumbuhan investasi menunjukkkan tren penurunan sebelum pemilu karena para calon investor cenderung wait and see. Tapi, pasca pemilu ada peningkatan investasi sebesar 0,6%.

Baca Juga: Soal outlook inflasi tahun 2020, INDEF berbeda pandangan dengan pemerintah

Sementara dari sisi fiskal, secara keseluruhan terlihat lebih ekspansif di semester I 2019 dibandingkan semester I 2018. "Walau begitu, kami masih melihat adanya peluang bagi kebijakan fiskal untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini," tambah Masyita.

Dari kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) memberikan dukungan dengan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bsp) pada bulan lalu. Hanya saja, DBS tidak melihat ada dampak secara langsung bagi pertumbuhan ekonomi karena adanya keterlambatan transmisi kebijakan moneter.


Reporter: Bidara Pink
Editor: Komarul Hidayat

Video Pilihan


Close [X]
×