kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.003   59,00   0,33%
  • IDX 5.940   -59,02   -0,98%
  • KOMPAS100 767   -10,79   -1,39%
  • LQ45 582   -5,30   -0,90%
  • ISSI 205   -3,23   -1,55%
  • IDX30 330   -2,90   -0,87%
  • IDXHIDIV20 405   -3,26   -0,80%
  • IDX80 87   -1,19   -1,35%
  • IDXV30 110   -1,37   -1,23%
  • IDXQ30 106   -0,78   -0,73%

Panda Bond Dijadwalkan Terbit Awal Juli, Kemenkeu: Minat Investor Cukup Tinggi


Jumat, 26 Juni 2026 / 08:06 WIB
Panda Bond Dijadwalkan Terbit Awal Juli, Kemenkeu: Minat Investor Cukup Tinggi
ILUSTRASI. Pemerintah memastikan penerbitan Panda Bond, obligasi berdenominasi renminbi yuan di pasar China masih sesuai jadwal, yakni awal Juli 2026. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah memastikan penerbitan Panda Bond, obligasi berdenominasi renminbi yuan di pasar domestik China masih sesuai jadwal, yakni awal Juli 2026. Kementerian Keuangan mengklaim, baik dari investor institusi maupun penjamin emisi (underwriter) menyampaikan minta yang tinggi terhadap Panda Bond.

Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin menyebut saat ini pemerintah tengah merampungkan proses administrasi sebelum obligasi tersebut resmi diterbitkan pada pekan depan.

"Administrasi harus kami lakukan. Jadi, akan sesuai jadwal, insyaAllah seperti yang disampaikan Pak Suminto. InsyaAllah awal Juli," ujar Herman kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Pemerintah Kembalikan Dana SAL ke BI, Ekonom: Perkuat Koordinasi Fiskal dan Moneter

Penerbitan Panda Bond ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas basis investor sekaligus mendiversifikasi sumber pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Melalui instrumen ini, pemerintah dapat mengakses likuiditas yang besar di pasar obligasi China dan memperkuat hubungan keuangan kedua negara.

Saat ini, pemerintah masih menjalankan proses book building guna mengukur besarnya permintaan investor sekaligus menentukan nilai penerbitan yang akan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan negara.

Herman mengungkapkan, optimisme tersebut diperkuat oleh hasil non-deal roadshow yang dipimpin Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Beijing pekan lalu. Dalam pertemuan itu, Purbaya didampingi Herman serta Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto.

Menurut Herman, lebih dari 15 investor institusi besar di China menyatakan minat yang tinggi terhadap Panda Bond. Bahkan, sejumlah investor berharap Indonesia menerbitkan obligasi dengan nilai yang lebih besar.

"Kemarin minatnya cukup besar, mereka ingin (penerbitan) lebih (besar). Tetapi tentu saja kami harus menyesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan kami juga dan cash management kami," katanya.

Investor yang ditemui berasal dari berbagai lembaga keuangan besar, mulai dari investment bank, perusahaan sekuritas, hingga afiliasi Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), bank dengan aset terbesar di dunia.

Baca Juga: Diundur! Cek Jadwal Baru Pengumuman Seleksi PPPK Sekolah Rakyat 2026, Cek Gajinya

Tak hanya investor, tingginya antusiasme juga datang dari para penjamin emisi. Herman mengatakan underwriter telah mengambil seluruh porsi pembelian yang diperbolehkan bagi mereka, bahkan sebelum obligasi tersebut dipasarkan lebih luas kepada investor.

"Kalau ditanya yang tertarik berapa, paling tidak dari underwriter-nya mereka dengan confident ambil porsi yang mereka boleh beli, mereka beli sendiri. Sisanya kan harus dijual keluar," ujarnya.

Menurut Herman, besarnya minat tersebut bahkan mendorong sejumlah lembaga keuangan lain mengajukan diri untuk bergabung sebagai underwriter pada penerbitan Panda Bond Indonesia berikutnya.

"Bahkan banyak juga yang menawarkan ke kita jadi bagian dari underwriter di masa depan. Tentu siapa pun boleh asalkan memenuhi ketentuan. Jadi, terbuka saja," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×