Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Optimisme konsumen mulai menunjukkan tren menyempit sejak awal tahun 2026 di tengah sikap rumah tangga yang semakin berhati-hati menghadapi tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) memang naik tipis menjadi 123,0 pada April 2026, dari 122,9 pada Maret 2026. Namun jika ditarik sejak awal tahun, arah optimisme konsumen sebenarnya terus melemah, meski masih bertahan di zona optimis.
BI mencatat IKK Februari turun dari 127,0 pada Januari menjadi 125,2, lalu kembali turun ke 122,9 pada Maret sebelum hanya naik tipis pada April. Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga terus menyempit dari 138,8 pada Januari menjadi 134,4 pada Februari, lalu 130,4 pada Maret, dan kembali turun menjadi 129,6 pada April.
Baca Juga: Pemerintah Belum Buru-Buru Pungut Pajak Marketplace, Purbaya Ungkap Syaratnya
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Ekonom Josua Pardede menilai menyempitnya optimisme tersebut menjadi sinyal bahwa konsumen mulai lebih berhati-hati dibanding awal tahun.
“Survei Konsumen BI April 2026 menunjukkan optimisme konsumen masih terjaga, tetapi kekuatannya mulai lebih rapuh dibanding awal tahun. Jadi konsumen masih optimis tapi lebih berhati-hati," ujar Josua kepada Kontan, Senin (11/5/2026).
Menyempitnya optimisme konsumen ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang melesat pada kuartal I 2026 sebesar 5,61% secara tahunan atau year on year (yoy). Dalam survei BI, konsumen justru mulai meningkatkan porsi tabungan di tengah konsumsi yang cenderung tertahan dan pembayaran cicilan yang menurun.
Hal ini tercermin dari proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) yang meningkat menjadi 18,2% pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 sebesar 17,6%.
Josua menjelaskan, meski pertumbuhan ekonomi cukup kuat, pertumbuhan tersebut sebagian besar ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri, percepatan belanja pemerintah, serta efek dasar yang rendah.
Karena itu, menurut dia, angka produk domestik bruto (PDB) yang tinggi di kuartal I tersebut belum otomatis diterjemahkan rumah tangga sebagai perbaikan pendapatan yang berkelanjutan.
“Bagi konsumen, yang paling dirasakan bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi kepastian pekerjaan, kenaikan pendapatan, harga kebutuhan pokok, cicilan, dan prospek usaha keluarga,” jelasnya.
Baca Juga: Panas Aspal Arab Saudi Bisa Capai 70 Derajat Celcius, Jemaah Waspadai Kaki Melepuh
Ia menilai kondisi tersebut menjelaskan mengapa data PDB terlihat kuat, sementara ekspektasi konsumen terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha justru menyempit.
Josua juga melihat tekanan biaya hidup dan ketidakpastian makro masih menjadi faktor yang menahan optimisme konsumen. Pelemahan rupiah, tingginya harga energi, biaya logistik, serta kenaikan harga barang impor dinilai berpotensi menekan daya beli dalam beberapa bulan ke depan.
“Meskipun ekonomi nasional tumbuh 5,61%, indikator permintaan masih memberi sinyal yang beragam,” ujarnya.
Ia mencatat keyakinan konsumen memang masih optimistis, tetapi mulai termoderasi. Di sisi lain, pertumbuhan penjualan ritel hanya mencapai 2,4% secara tahunan, sementara penjualan kendaraan bermotor segmen LCGC masih terkontraksi secara tahunan.
“Artinya, konsumsi masih menjadi penopang, tetapi tidak semua jenis belanja bergerak kuat,” katanya.
Terkait indikasi konsumen menahan belanja dan mengurangi cicilan, Josua melihat hal itu merupakan gabungan antara normalisasi pasca-Lebaran dan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga.
Data BI mencatat pada April 2026 porsi pendapatan untuk konsumsi relatif stabil di 72,1%, sedikit turun dari 72,2% pada Maret. Sementara porsi pembayaran cicilan turun dari 10,2% menjadi 9,7%, dan porsi pendapatan yang ditabung naik dari 17,6% menjadi 18,2%.
“Ini menunjukkan rumah tangga tidak serta-merta memangkas konsumsi secara tajam, tetapi mulai memperbaiki bantalan keuangan setelah belanja besar saat Ramadan dan Idulfitri,” ungkapnya.
Meski demikian, Josua mengingatkan kenaikan porsi tabungan tidak bisa langsung dibaca sebagai tanda daya beli membaik. Dalam kondisi ketidakpastian, rumah tangga cenderung meningkatkan tabungan sebagai langkah berjaga-jaga, bukan karena pendapatan meningkat kuat.
Hal itu, menurut dia, diperkuat oleh data LPS pada Maret 2026 yang menunjukkan Indeks Menabung Konsumen turun ke 79,5, Indeks Kemampuan Menabung turun ke 72,0, dan Indeks Kemauan Menabung turun ke 87,1.
Baca Juga: Koper Jemaah Haji Dibongkar di Bandara Jeddah, Imbas Bawa Tempe Orek 5 Kg
Selain itu, porsi responden yang menabung lebih kecil dari rencana juga naik dari 35,5% menjadi 40,7%, terutama pada kelompok pendapatan rendah-menengah.
“Jadi, sebagian rumah tangga memang ingin lebih berhati-hati, tetapi belum tentu memiliki kemampuan menabung yang kuat,” ujarnya.
Melihat kondisi ini, Josua menilai konsumsi rumah tangga saat ini memang belum masuk fase pelemahan tajam, tetapi sudah menunjukkan sinyal kewaspadaan.
“Normalisasi pasca HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) jelas berperan karena belanja besar Lebaran telah selesai. Namun, ada unsur kekhawatiran yang lebih mendasar, terutama terkait pendapatan, lapangan kerja, harga barang, dan biaya hidup ke depan,” katanya.
Ia menambahkan, jika inflasi tetap terkendali, rupiah lebih stabil, dan belanja pemerintah masuk ke sektor produktif, keyakinan konsumen masih bisa bertahan.
Sebaliknya, jika rupiah tetap melemah, harga energi tinggi, dan dunia usaha menahan ekspansi tenaga kerja, maka konsumsi rumah tangga berisiko melambat pada kuartal II dan semester II 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













