Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Lebih lanjut, Wijayanto juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan inflasi.
“Inflasi akan meningkat akibat kombinasi kenaikan harga energi dan penurunan nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, jika pemerintah memilih menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), maka kenaikan harga energi akan langsung memicu inflasi.
Sebaliknya, jika harga BBM ditahan, beban fiskal akan membengkak, yang pada akhirnya bisa menekan nilai tukar rupiah dan memicu inflasi impor (imported inflation). Karena itu, pemerintah dinilai perlu mencari titik keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan kesehatan fiskal.
Lebih lanjut, Wijayanto menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan kebijakan fiskal. Upaya peningkatan pendapatan negara perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu iklim investasi, misalnya dengan tidak mempersulit restitusi pajak atau menerapkan pajak tambahan secara berlebihan.
Selain itu, penegakan hukum juga harus dilakukan secara transparan dan adil untuk menghindari munculnya kekhawatiran di kalangan pelaku usaha.
Tonton: Breaking News! 49 Negara Eropa Bersatu Hadapi Inflasi Akibat Konflik Selat Hormuz
"Kemudian, penegakan hukum juga perlu dilakukan secara transparan dan jangan tebang pilih, untuk menghindari suasana 'ketakutan berusaha' di kalangan pengusaha," ujarnya.
Di sisi lain, efisiensi anggaran dinilai perlu dilakukan secara lebih rasional. Program-program dengan porsi anggaran besar, seperti MBG, KDMP, dan belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista), perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran.
"Lalu, pemangkasan anggaran perlu dilakukan secara lebih bijak dan rasional. Anggaran seperti MBG, KDMP dan belanja alustista harus menjadi bagian dari efisiensi, mengingat anggaran terbesar ada di ranah itu," jelasnya.
Terkait subsidi energi, Wijayanto menyarankan agar pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi, namun dengan skema yang lebih terarah. Subsidi sebaiknya difokuskan pada kelompok tertentu, seperti pengguna sepeda motor dan transportasi umum. Sementara itu, harga BBM non-subsidi dapat disesuaikan secara bertahap sesuai kemampuan fiskal negara.
(Alicia Diahwahyuningtyas, Irawan Sapto Adhi)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/18/083000565/rupiah-tembus-rekor-terendah-ekonom-ungkap-biang-kerok-dan-potensi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













