kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   16.000   0,56%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah, Ini Biang Keroknya Menurut Ekonom


Minggu, 19 April 2026 / 03:49 WIB
Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah, Ini Biang Keroknya Menurut Ekonom
ILUSTRASI. Rupiah menyentuh level Rp 17.192 per dolar AS, terendah sepanjang sejarah. Kombinasi faktor global dan domestik menjadi biang keroknya. (AFP/BAY ISMOYO)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollae Amerika Serikat (AS) terus merosot dan menyentuh level terendah pada Jumat (17/4/2026). Di saat yang sama, bursa saham negara berkembang di Asia justru menunjukkan tren positif.

Investor mulai optimistis terhadap potensi meredanya konflik di Timur Tengah dalam jangka pendek, sehingga mendorong penguatan pasar saham di kawasan.

Indeks MSCI untuk saham negara berkembang di Asia memang sempat turun 0,9% dari level sebelum perang. Namun, indeks tersebut diperkirakan tetap mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 3,5%.

Secara keseluruhan, kinerja pasar saham pada April pun berbalik positif dengan kenaikan 15,4 persen, setelah sebelumnya anjlok hingga 14 persen pada Maret.

Di tengah sentimen positif tersebut, rupiah justru bergerak sebaliknya. Mata uang Indonesia ini sempat menyentuh level Rp 17.192 per dolar AS, memperpanjang pelemahannya sepanjang 2026 menjadi sekitar 3%.

Adapun, tekanan terhadap rupiah terutama terjadi sejak konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari. Lantas, benarkah rupiah kini mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah?

Baca Juga: TNI AL: Kapal Perang AS Melintas di Selat Malaka, Bukan Operasi Khusus

Penyebab rupiah merosot ke level terendah

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, membenarkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tengah merosot dan mencapai level terendah pada Jumat. Ia menyebut, pelemahan yang terjadi pada pertengahan April 2026 ini bahkan telah menembus titik terendah sepanjang sejarah.

“Betul, rupiah menyentuh nilai tukar terendah sepanjang sejarah,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/4/2026).

Menurut Wijayanto, pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan.

Pertama, suku bunga AS yang masih relatif tinggi sehingga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.

Kedua, kondisi geopolitik global yang tidak stabil, terutama akibat konflik di Timur Tengah, yang meningkatkan persepsi risiko investor. Selain itu, arus keluar modal (capital outflow) telah berlangsung sejak pertengahan 2025.

"Di sisi lain, kondisi fiskal domestik juga dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal," jelas Wijayanto.

Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah sejauh ini masih tertahan oleh intervensi Bank Indonesia (BI). Tanpa intervensi tersebut, nilai tukar rupiah berpotensi melemah lebih dalam.

Baca Juga: Algoritma Media Sosial Seharusnya Bisa Digugat Secara Hukum, Ini Alasannya

Bagaimana dengan ancaman inflasi di Indonesia?

Lebih lanjut, Wijayanto juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan inflasi.

“Inflasi akan meningkat akibat kombinasi kenaikan harga energi dan penurunan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Ia menjelaskan, jika pemerintah memilih menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), maka kenaikan harga energi akan langsung memicu inflasi.

Sebaliknya, jika harga BBM ditahan, beban fiskal akan membengkak, yang pada akhirnya bisa menekan nilai tukar rupiah dan memicu inflasi impor (imported inflation). Karena itu, pemerintah dinilai perlu mencari titik keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan kesehatan fiskal.

Lebih lanjut, Wijayanto menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan kebijakan fiskal. Upaya peningkatan pendapatan negara perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu iklim investasi, misalnya dengan tidak mempersulit restitusi pajak atau menerapkan pajak tambahan secara berlebihan.

Selain itu, penegakan hukum juga harus dilakukan secara transparan dan adil untuk menghindari munculnya kekhawatiran di kalangan pelaku usaha.

Tonton: Breaking News! 49 Negara Eropa Bersatu Hadapi Inflasi Akibat Konflik Selat Hormuz

"Kemudian, penegakan hukum juga perlu dilakukan secara transparan dan jangan tebang pilih, untuk menghindari suasana 'ketakutan berusaha' di kalangan pengusaha," ujarnya.

Di sisi lain, efisiensi anggaran dinilai perlu dilakukan secara lebih rasional. Program-program dengan porsi anggaran besar, seperti MBG, KDMP, dan belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista), perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran.

"Lalu, pemangkasan anggaran perlu dilakukan secara lebih bijak dan rasional. Anggaran seperti MBG, KDMP dan belanja alustista harus menjadi bagian dari efisiensi, mengingat anggaran terbesar ada di ranah itu," jelasnya.

Terkait subsidi energi, Wijayanto menyarankan agar pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi, namun dengan skema yang lebih terarah. Subsidi sebaiknya difokuskan pada kelompok tertentu, seperti pengguna sepeda motor dan transportasi umum. Sementara itu, harga BBM non-subsidi dapat disesuaikan secara bertahap sesuai kemampuan fiskal negara.

(Alicia Diahwahyuningtyas, Irawan Sapto Adhi)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/18/083000565/rupiah-tembus-rekor-terendah-ekonom-ungkap-biang-kerok-dan-potensi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×