Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Kondisi ini berbalik dari neraca perdagangan di April 2026 yang masih mencatat surplus sebesar US$ 89,1 juta.
Defisit tersebut menjadi yang pertama setelah Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipicu oleh besarnya defisit pada sektor migas.
"Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar US$ 3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Capai 0,44%, Dipicu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi & Tarif Angkutan
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar US$ 2,15 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta besi dan baja.
Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 23,20 miliar atau turun 5,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas sebesar 4,50% menjadi US$ 22,45 miliar.
Sementara itu, ekspor migas turun lebih dalam, yakni 31,76% secara tahunan menjadi US$ 760 juta.
Di sisi impor, BPS mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$ 24,82 miliar pada Mei 2026 atau meningkat 22,16% dibandingkan Mei 2025.
Kenaikan impor terutama didorong oleh impor nonmigas yang tumbuh 14,89% secara tahunan menjadi US$ 20,30 miliar. Sementara itu, impor migas melonjak 70,78% menjadi US$ 4,51 miliar.
Baca Juga: Empat Marketplace Ditunjuk Jadi Pemungut PPh 22, Ini Pertimbangan DJP
Lonjakan impor migas yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor menjadi faktor utama yang mendorong Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei 2026.
BPS mencatat, meskipun sektor nonmigas masih mampu membukukan surplus, nilainya belum cukup untuk menutupi defisit perdagangan migas yang mencapai US$ 3,76 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













