kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Menkeu sebut sistem logistik Indonesia seperti benang ruwet


Kamis, 24 September 2020 / 15:39 WIB
Menkeu sebut sistem logistik Indonesia seperti benang ruwet
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati


Reporter: Venny Suryanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah mengembangkan program National Logistic Ecosystem (NLE) sebagai platform digitalisasi yang dapat mempertemukan komunitas logistik antara sektor permintaan dan penawaran.

Platform NLE ini nantinya dapat mempertemukan komunitas logistik di sektor permintaan yang kini sudah ada di Customs Excise Information System and Automation (CEISA) yaitu importir/eksportir dengan komunitas logistik di sektor supply yaitu penyedia jasa logistik.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menjelaskan, gambaran sistem logistik Indonesia saat ini seperti ‘benang’ ruwet . Sehingga pelaku usaha dari logistik, eksportir dan importir harus berkali-kali melakukan penyerahan maupun proses yang berulang dan rumit. 

Baca Juga: Menkeu targetkan biaya logistik Indonesia bisa diturunkan hingga 17% dari PDB

Sehingga, dengan adanya National Logistic Ecosystem (NLE) nanti diharapkan akan ada kemudahan dan kejelasan dalam seluruh proses serta akan dipermudah segala dokumennya. “Dari keseluruhan pemerintah ke pemerintah dalam National Single Window Indonesia nanti juga akan ada simplifikasi dokumen sampai masalah perizinan dan tentu sisi sharing dari segi bisnis,” jelas Menkeu. 

Adapun juga dari sisi pelaku usaha seperti penyedia jasa trucking, warehousing, shipping, forwarder hingga payment dapat dimasukan ke ekosistem NLE. Sehingga seluruh kegiatan tersebut akan masuk dalam ekosistem tanpa harus melakukan proses yang berulang-ulang. “Karena biasanya pelaku usaha ini menggunakan formulir yang diisi dan harus diberikan ke lembaga-lembaga secara berkali-kali,” tutupnya.

Selanjutnya: Jalan akses Pelabuhan Patimban siap layani arus logistik bulan depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×