kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

Menhan: MRO Hercules di Kertajati Utamakan Kemampuan Industri Dalam Negeri


Rabu, 19 Agustus 2026 / 15:21 WIB
Menhan: MRO Hercules di Kertajati Utamakan Kemampuan Industri Dalam Negeri
ILUSTRASI. Kawasan Industri Aerocity (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan rencana pengembangan pusat maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules di Bandara Kertajati, Jawa Barat, akan tetap mengutamakan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Sjafrie mengatakan, kerja sama dengan negara sahabat tetap terbuka untuk mendukung pengembangan fasilitas MRO Hercules di Indonesia. Namun, dukungan tersebut hanya akan menjadi pelengkap, sementara kegiatan pemeliharaan dan perawatan pesawat diupayakan dapat dilakukan oleh tenaga teknis dalam negeri.

"Kerja sama luar negeri ini terbuka kepada kita dalam rangka membuka kerja sama teknis kepada negara-negara sahabat untuk melakukan MRO di Indonesia," kata Sjafrie saat ditemui di Hanggar GMF AeroAsia, Tangerang, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: BI: Prospek Ekonomi Global Masih Lemah, Perlu Sinergi Fiskal dan Moneter

Menurut Sjafrie, pemerintah saat ini tengah mengatur fasilitas yang nantinya dapat digunakan untuk kegiatan MRO, termasuk kemungkinan pemanfaatan fasilitas di Kertajati.

Namun, Sjafrie menekankan kebutuhan utama pengembangan fasilitas tersebut adalah membangun kemampuan Indonesia dalam melakukan pemeliharaan pesawat secara mandiri.

"Yang paling penting kebutuhan kita untuk Kertajati adalah kebutuhan pemeliharaan dan kebutuhan operasional yang dikerjakan sendiri oleh putra-putra sebagai sebuah bangsa," ujarnya.

Ia menambahkan, bantuan internasional nantinya hanya berfungsi sebagai dukungan tambahan dan bukan menjadi sumber utama dalam kegiatan pemeliharaan pesawat.

"Jadi bantuan internasional itu hanya sebagai suplement, tidak menjadi mainstream di dalam pemeliharaan dan juga perawatan pesawat," tegas Sjafrie.

Sjafrie menyebut pemerintah masih membuka opsi kerja sama dengan pihak asing dalam pengembangan MRO Hercules. Nantinya, pelaksanaan teknis dan lokasi fasilitas akan ditentukan melalui pembahasan kelompok kerja atau working group.

"MRO itu kita membuka pintu, tapi nanti kita yang mengatur. Working group akan mengatur di mana nanti MRO itu akan dilaksanakan," jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah menyampaikan rencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat MRO pesawat angkut berat C-130 Hercules untuk kawasan Asia. Rencana tersebut muncul setelah adanya tawaran kerja sama dari Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth kepada Sjafrie.

Baca Juga: Pemerintah Sebut Modal Awal Danantara Development Management Fund Tak Pakai APBN

Sjafrie mengatakan, revitalisasi fasilitas teknis di Kertajati saat ini mulai dilakukan. Menurut dia, pengembangan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan industri pertahanan nasional dalam melakukan pemeliharaan pesawat militer.

"Revitalisasi ini hendaknya akan menjadi tumpuan kita bahwa ke depan nanti kita akan memiliki suatu industri pertahanan di Indonesia yang juga mampu memelihara pesawat," kata Sjafrie.

Ia menambahkan, kemampuan tersebut nantinya tidak hanya diarahkan untuk pesawat angkut seperti Hercules, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendukung pemeliharaan pesawat tempur.

Dalam pengembangan MRO tersebut, industri dalam negeri seperti PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga diproyeksikan memiliki peran. Pemerintah ingin kemampuan teknis yang sudah dibangun dapat memperkuat kemandirian pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) di dalam negeri.

"Bagaimana pengembangan kekuatan pertahanan ini kita tingkatkan dengan menggunakan kemampuan dari awak teknis yang berasal dari putra-putri bangsa Indonesia sendiri," imbuh Sjafrie.

Baca Juga: Daftar Kebijakan BI untuk Stabilkan Rupiah hingga Dorong Kredit dan Ekonomi Digital

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×