kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Menakar Peluang BI Jalin Akses Likuiditas Dolar AS Langsung ke The Fed


Rabu, 08 April 2026 / 20:33 WIB
Menakar Peluang BI Jalin Akses Likuiditas Dolar AS Langsung ke The Fed
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Upaya memperkuat stabilitas rupiah kembali mengemuka, seiring munculnya dorongan agar Bank Indonesia (BI) menjajaki akses langsung ke likuiditas dolar Amerika Serikat (AS) melalui kerja sama dengan bank sentral AS, Federal Reserve. 

Gagasan ini dinilai dapat menjadi bantalan tambahan di tengah tekanan global yang masih membayangi nilai tukar.

Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat peluang kerja sama tersebut tetap terbuka, meski tidak mudah. Selama ini, Indonesia telah memiliki jaringan kerja sama swap bilateral dengan sejumlah negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, serta terlibat dalam skema multilateral regional. 

Namun, akses langsung dengan AS dinilai akan memberi nilai tambah signifikan, terutama dari sisi ketersediaan likuiditas dolar yang jauh lebih besar.

Baca Juga: Redam Gejolak Rupiah, BI Disarankan Buka Akses Likuiditas Dolar AS, Memungkinkan?

“Akan sangat baik juga kalau ada kerja sama langsung dengan Amerika,” ujar David kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Dalam praktik global, akses langsung ke The Fed umumnya diberikan melalui skema standing swap lines, jalur pertukaran mata uang permanen yang dimiliki oleh negara-negara dengan posisi strategis dalam sistem keuangan global, seperti Jepang, Inggris, dan kawasan Eropa. 

Selain itu, terdapat pula skema swap line periodik yang dapat diperbarui, seperti yang dimiliki Singapura, meskipun tidak bersifat permanen.

Di sinilah tantangan utama bagi Indonesia. Akses tersebut selama ini cenderung terbatas pada negara-negara sekutu dekat AS atau yang memiliki peran kunci dalam stabilitas sistem keuangan global. 

Faktor kepercayaan, kedalaman pasar keuangan, serta hubungan geopolitik menjadi pertimbangan utama dalam pemberian fasilitas tersebut.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.636 Per Dolar AS Setelah The Fed Pangkas Suku Bunga

Meski begitu, peluang tidak sepenuhnya tertutup. Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa negara di luar lingkaran inti tetap bisa memperoleh akses, meski dalam bentuk yang lebih terbatas dan bersifat temporer. 

Artinya, Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan status kerja samanya, setidaknya secara bertahap.

Saat ini, Indonesia sejatinya sudah memiliki jalur akses ke likuiditas dolar AS melalui mekanisme repo facility dengan The Fed. Skema ini memungkinkan BI memperoleh dolar dengan menjaminkan surat berharga. 

Namun, dibandingkan swap line, fasilitas repo dinilai kurang fleksibel dan tidak memberikan jaminan likuiditas yang sama kuat dalam kondisi krisis.

Karena itu, penguatan kerja sama yang ada menjadi langkah realistis dalam jangka menengah. Pendalaman fasilitas repo atau peningkatan menuju skema swap line terbatas dinilai bisa menjadi batu loncatan, sebelum mencapai akses yang lebih permanen.

Di tengah dinamika global, kebutuhan akan bantalan likuiditas semakin penting. Penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, hingga fluktuasi harga komoditas terus memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. 

Baca Juga: Ketidakpastian Tinggi, Institusi Keuangan Global Sulit Prediksi Arah Bunga The Fed

Dalam kondisi seperti ini, keberadaan swap line dengan bank sentral utama dapat berfungsi sebagai “jaring pengaman” saat terjadi tekanan likuiditas.

Namun, David menekankan bahwa strategi stabilisasi rupiah tidak semata bergantung pada intervensi atau ketersediaan cadangan devisa. 

Pendekatan yang lebih adaptif, seperti mengikuti arah pasar (riding the wave), dinilai lebih efektif dibandingkan melawan arus yang justru berisiko menggerus cadangan devisa secara berlebihan.

Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong memadai. Per akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 148,2 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari tiga hingga empat bulan impor serta pembayaran utang luar negeri jangka pendek. 

Selain itu, Indonesia juga memiliki “secondary buffer” berupa jaringan swap dengan berbagai negara.

Baca Juga: Inilah Perkiraan Waktu Pemangkasan Suku Bunga The Fed Tahun 2026

Ke depan, diversifikasi kerja sama dinilai tetap penting. Selain menjajaki peluang dengan AS, Indonesia juga didorong memperluas jaringan swap ke kawasan lain seperti Timur Tengah dan Eropa yang memiliki cadangan devisa besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×