kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.126   32,00   0,19%
  • IDX 7.455   147,87   2,02%
  • KOMPAS100 1.029   19,22   1,90%
  • LQ45 745   11,30   1,54%
  • ISSI 269   4,86   1,84%
  • IDX30 400   6,61   1,68%
  • IDXHIDIV20 489   8,94   1,86%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,89   1,42%
  • IDXQ30 129   2,20   1,73%

Gandeng Mitra China, Danantara Bentuk Holding Proyek Pengolahan Sampah Denera


Jumat, 10 April 2026 / 11:26 WIB
Diperbarui Jumat, 10 April 2026 / 11:27 WIB
Gandeng Mitra China, Danantara Bentuk Holding Proyek Pengolahan Sampah Denera
ILUSTRASI. waste to energy (danantara/Danantara)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara meresmikan pembentukan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) sebagai holding proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). 

Perusahaan yang berdiri pada 1 April 2026 ini ditujukan untuk mengonsolidasikan proyek-proyek PSEL yang selama ini berjalan tersebar dan kerap tersendat.

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pembentukan Denera merupakan langkah untuk merapikan struktur investasi sekaligus memperbaiki tata kelola sektor pengolahan sampah yang dinilai masih lemah dari sisi koordinasi dan pendanaan.

Baca Juga: BI: Persepsi Konsumen Terhadap Ekonomi Menurun di Maret 2026

“Ini bukan sekadar pembentukan perusahaan baru, melainkan platform investasi yang terstruktur, transparan, dan akuntabel,” ungkap Pandu dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (10/4/2026).

Denera berada di bawah PT Danantara Investment Management dan akan menjadi induk bagi seluruh Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) proyek PSEL. 

Skema bisnisnya mengandalkan kemitraan dengan konsorsium, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Secara fungsi, Denera memegang tiga peran utama, yakni mengonsolidasikan proyek PSEL nasional, mengelola investasi dan menghimpun pendanaan, serta memfasilitasi transfer teknologi dari mitra global. 

Pemerintah berharap model ini dapat mempercepat realisasi proyek yang selama ini terhambat persoalan keekonomian dan struktur pembiayaan.

Langkah tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mendorong percepatan pengolahan sampah perkotaan menjadi energi berbasis teknologi ramah lingkungan. 

Hanya saja, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala mendasar, terutama minimnya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dan belum terbangunnya ekosistem pengelolaan yang terintegrasi.

Di tengah keterbatasan itu, Danantara memilih menggandeng mitra teknologi dari China. 

Managing Director Stakeholders Management and Communications Danantara, Rohan Hafas, menyebut pendekatan ini didasarkan pada kesesuaian teknologi dengan karakter sampah domestik.

“Komposisi sampah di Indonesia masih tercampur. Teknologi dari negara yang sudah menerapkan pemilahan ketat sejak hulu menjadi kurang relevan. China punya pengalaman mengolah sampah campuran secara langsung,” kata Rohan, Kamis (9/4/2026).

Sejauh ini, dua perusahaan China telah masuk sebagai mitra strategis. Wangneng Environment Co., Ltd. akan menggarap proyek di Bekasi, sedangkan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. mengelola proyek di Denpasar dan Bogor Raya.

Baca Juga: Danantara Mulai Garap 3 Proyek Waste to Energy, Segera Buka Tender untuk 25 Kota

Pembentukan Denera menjadi upaya terbaru pemerintah untuk mengatasi stagnasi proyek PSEL yang selama ini dinilai tidak bankable

Kendati demikian, efektivitas holding ini akan ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan pembiayaan, kesiapan teknologi, serta reformasi sistem pengelolaan sampah nasional yang hingga kini belum tuntas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×