kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Melihat Rangkaian Persiapan Penyambutan Hari Raya Waisak di Jakarta dan Solo


Selasa, 12 Mei 2026 / 22:31 WIB
Melihat Rangkaian Persiapan Penyambutan Hari Raya Waisak di Jakarta dan Solo
ILUSTRASI. Perayaan Waisak 2569 BE/2025 di Candi Borobudur (DOK/InJourney)


Reporter: kompas.com, TribunNews | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE mulai terasa di sejumlah daerah dengan rangkaian kegiatan spiritual dan budaya yang melibatkan ribuan umat Buddha. 

Di Jakarta, prosesi sakral Pindapata Nasional berlangsung khidmat dengan para Bhikkhu berjalan kaki tanpa alas kaki menerima dana dari umat. 

Sementara di Solo, suasana Waisak mulai semarak lewat pemasangan ornamen Buddhis dan persiapan kirab besar Bhikkhu Thudong dari berbagai negara Asia Tenggara.

Prosesi Gema Waisak Pindapata Nasional 2026 digelar di kawasan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5/2026). 

Sebanyak 78 Bhikkhu Sangha bersama puluhan ribu umat Buddha mengikuti ritual berjalan kaki di sepanjang Jalan Benyamin Sueb, mulai dari Bundaran Mega Kemayoran (MGK) menuju Bundaran BNI dan kembali lagi ke titik awal.

Dalam tradisi tersebut, para Bhikkhu berjalan tanpa alas kaki sambil menerima persembahan dari umat berupa makanan, pakaian, hingga obat-obatan. Tradisi Pindapata sendiri berasal dari bahasa Pali, yakni “pinda” yang berarti makanan dan “patta” yang berarti mangkuk makanan.

Baca Juga: Tolak Skema Bonus Hari Raya 25%, SPAI Minta Platform Bayar THR Ojol Setara UMP

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Pindapata bukan sekadar ritual menerima makanan, tetapi menjadi simbol hubungan batin antara umat dan Bhikkhu.

"Pindapata bukan sekadar menerima makanan, melainkan perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima," ujar Nasaruddin seperti dikutip dari Tribunnews.

Ketua Umum Panitia Gema Waisak Pindapata Nasional 2026, Bhikkhu Dhammakaro Mahathera, menyebut tradisi tersebut telah berlangsung lebih dari 2.500 tahun dan menjadi sarana melatih kesederhanaan serta kedermawanan.

Menurut dia, Pindapata menjadi pengingat pentingnya saling mendukung dalam kehidupan spiritual.

Direktur Utama Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran, Teddy Robinson Siahaan, mengatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan tersebut karena menunjukkan kawasan Kemayoran juga dapat menjadi ruang kegiatan keagamaan dan kebudayaan.

Selama prosesi berlangsung, rekayasa lalu lintas diterapkan di sepanjang Jalan Benyamin Sueb dari Bundaran MGK hingga Bundaran BNI pada pukul 03.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Baca Juga: Sambut Hari Suci Nyepi 2026, Pilih Ucapan untuk Dikirim Kepada Umat Hindu

Sementara itu di Solo, suasana menyambut Waisak mulai terlihat dengan pemasangan berbagai ornamen Buddhis di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman sejak Selasa (12/5/2026).

Ornamen yang dipasang meliputi gapura stupa, penjor, Pilar Asoka, lampion, naga penjaga, teratai, hingga dekorasi bertema Waisak seperti bendera Buddhis dan cakra. Ketua Panitia Waisak Solo, Sutrisno, mengatakan terdapat 12 stupa dan sembilan ornamen dewa yang menghiasi kawasan tersebut.

Di depan Plaza Balai Kota Solo juga akan dipasang Rupang Buddha Maha Parinibbana atau Buddha tidur yang diapit ornamen bunga teratai emas. Seluruh dekorasi dijadwalkan terpasang penuh mulai 19 Mei hingga 19 Juni 2026.

"Ornamen di Balai Kota Solo adalah simbol agama Buddha yang berkaitan dengan kisah kehidupan Sang Buddha," kata Sutrisno seperti dikutip dari Kompas.com.

Tak hanya dekorasi, Solo juga menyiapkan rangkaian kegiatan Waisak yang berlangsung hingga awal Juni. Salah satu agenda utama ialah penyambutan 55 Bhikkhu Thudong dari Laos, Malaysia, dan Thailand yang akan tiba di Vihara Dhamma Sundata pada 23 Mei 2026 setelah menjalani perjalanan spiritual dengan berjalan kaki.

Baca Juga: Selamat Hari Raya Kuningan pada 29 November 2025, ini Makna yang Harus Anda Ketahui

Setelah prosesi penyambutan dan pembasuhan kaki Bhikkhu, para peserta akan mengikuti kirab Waisak menuju Balai Kota Solo. Kirab tersebut diperkirakan diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai organisasi Buddhis, pemuda lintas agama, hingga masyarakat umum.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Sangha Dana dan Pindapata di Balai Kota Solo pada 24 Mei 2026. Dalam tradisi itu, masyarakat diperbolehkan memberikan makanan, minuman, vitamin, hingga obat-obatan kepada para Bhikkhu Thudong.

Puncak spiritual Waisak akan berlangsung pada 31 Mei 2026 melalui prosesi detik-detik Waisak di Vihara Dhamma Sundata dan sejumlah vihara di Solo. Kegiatan itu dilanjutkan meditasi umum bersama Bhikkhu yang terbuka bagi masyarakat luas.

Adapun puncak perayaan Waisak Solo dijadwalkan berlangsung pada 6 Juni 2026 di Pendapi Balai Kota Solo dengan agenda doa bersama, pesan kebangsaan, pentas budaya, dan kegiatan lintas umat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×