Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren konsumsi masyarakat pada kuartal II-2026 mulai menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal itu tercermin dari perkembangan data Mandiri Spending Index (MSI) per 21 Juni 2026 yang mencatat rata-rata pertumbuhan belanja sebesar 6,1% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,4% YoY pada kuartal I-2026.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan secara rata-rata pertumbuhan belanja pada kuartal II-2026 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 6,1% YoY dibandingkan 5,9% YoY pada kuartal II-2025. Namun, secara kuartalan, momentum pertumbuhan mulai melandai.
"Resilient growth (tetap tumbuh kuat), easing momentum (tapi momentum pertumbuhan mulai melandai). Belanja saat ini tumbuh 6,1% YoY, sedikit lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu 6,0%. Namun, tren pertumbuhan tahunan melandai dibanding kuartal I-2026 yang sebesar 6,4%, menunjukkan belanja masih resilien tetapi momentum pertumbuhannya lebih terbatas," ujar Andry kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).
Baca Juga: Kemenkop Gandeng Agrinas Kelola Sawit Berbasis Koperasi, Awas Risiko Ketergantungan
Berdasarkan data MSI, emasuki periode libur sekolah, aktivitas belanja mulai menunjukkan penguatan. Pada pekan ketiga Juni atau minggu kedua libur sekolah, belanja tercatat berada di level 123,3 dengan pertumbuhan 0,36% secara mingguan (week on week/WoW), lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,10% WoW pada pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 0,16% WoW.
Kenaikan tersebut mencerminkan modest lift, di mana belanja meningkat di minggu kedua libur sekolah, seiring dukungan musim liburan (holiday support) yang mulai mendorong aktivitas konsumsi.
Menurut Andry, secara historis belanja masyarakat pada periode libur sekolah biasanya mencapai puncaknya pada pekan terakhir masa liburan. Ia juga menilai tren ini menunjukkan better pickup di tengah pertumbuhan tahunan yang tetap resilien.
Dari sisi wilayah, seluruh kawasan mencatat pertumbuhan positif secara mingguan. Jawa menjadi wilayah dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,40% WoW, diikuti Sumatra dan Sulawesi masing-masing 0,27% WoW, Kalimantan 0,26% WoW, Maluku dan Papua 0,22% WoW, serta Bali-Nusa Tenggara (Balnusra) sebesar 0,12% WoW.
Pola ini menunjukkan broader pickup, di mana belanja mingguan membaik di seluruh wilayah dan sebagian besar mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama Kalimantan, Jawa, Sumatra, serta Maluku dan Papua.
Baca Juga: Perbaikan Kinerja BUMN di Bawah Danantara Ditopang Restrukturisasi dan Momentum Pasar
Secara tahunan, pertumbuhan konsumsi tertinggi masih terjadi di Sulawesi sebesar 10,0% YoY, diikuti Kalimantan 9,3% YoY dan Balnusra 8,0% YoY. Ketiga wilayah tersebut mencatat kinerja lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara Sumatra, Jawa, serta Maluku dan Papua masih tumbuh tetapi lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Belanja ditopang konsumsi harian, elektronik, dan pendidikan
Dari sisi kategori, belanja masih ditopang oleh elektronik yang tumbuh 19,0% YoY dan pendidikan 11,8% YoY. Kategori lain seperti mobilitas tumbuh 6,1% YoY, consumer goods 5,3% YoY, kesehatan 3,8% YoY, kebutuhan rumah tangga 2,8% YoY, sementara leisure hanya tumbuh terbatas 0,4% YoY.
Pada consumer goods, seluruh subkategori tumbuh positif secara mingguan. Kenaikan tertinggi terjadi pada fashion sebesar 0,53% WoW, diikuti restoran 0,39% WoW dan supermarket 0,28% WoW. Secara tahunan, supermarket tumbuh 6,0% YoY, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,2% YoY, menunjukkan kebutuhan harian masih lebih dominan dibanding belanja diskresioner.
Sementara itu, pada kategori leisure, seluruh subkelompok juga tumbuh positif. Namun, penguatan terutama terlihat pada belanja hobi-hiburan (0,69% WoW) dan hotel (0,67% WoW), yang mengindikasikan momentum libur sekolah lebih banyak ditopang oleh rekreasi dan akomodasi. Secara tahunan, leisure masih tumbuh terbatas 0,4% YoY, terutama karena kontraksi hobi-hiburan (-3,7% YoY) yang berbeda jauh dari periode tahun lalu.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Hadapi Permacrisis, Risiko PHK Massal Meningkat
Di sisi mobilitas, seluruh subkategori juga mencatat pertumbuhan positif. Kenaikan terbesar terjadi pada tiket pesawat (airlines) sebesar 5,12% WoW, jauh di atas periode yang sama tahun lalu sebesar 0,60% WoW, seiring libur sekolah dan Garuda Travel Fair. Subkategori lain seperti otomotif (0,46% WoW), transportasi (0,43% WoW), dan bahan bakar (0,43% WoW) juga meningkat.
Namun secara tahunan, pertumbuhan mobilitas masih relatif terbatas di level 6,1% YoY. Perbaikan terutama ditopang oleh tiket pesawat yang tumbuh 4,4% YoY, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar 2,7% YoY, sementara subkategori lain masih tumbuh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Secara tren, porsi belanja elektronik tercatat meningkat, sementara dining out dan kebutuhan harian tetap mendominasi konsumsi masyarakat.
Dari sisi konsumsi berdasarkan kelompok pendapatan, pola belanja masyarakat menunjukkan perbedaan yang cukup jelas antar segmen. Kelompok menengah masih menjadi penopang utama aktivitas konsumsi, dengan proporsi belanja yang didominasi oleh kebutuhan harian (daily needs) dan aktivitas makan di luar rumah (dining out), yang cenderung stabil.
Sementara itu, kelompok bawah memiliki porsi belanja yang lebih besar pada kebutuhan pokok, namun menunjukkan keterbatasan pada ruang konsumsi nonesensial. Hal ini tercermin dari porsi belanja yang lebih terkonsentrasi pada kebutuhan dasar, seiring tekanan terhadap daya beli.
Adapun kelompok atas menunjukkan struktur belanja yang lebih terdiversifikasi, dengan porsi lebih besar pada kategori seperti household, fashion, medical, serta lifestyle. Meski demikian, secara umum proporsi belanja pada kelompok ini juga menunjukkan kecenderungan lebih selektif dalam pengeluaran nonesensial.
Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih ditopang oleh kelompok menengah, sementara kelompok bawah masih berada dalam tekanan, dan kelompok atas cenderung mengoptimalkan belanja pada kategori yang lebih beragam namun tetap terukur.
Namun dari sisi tabungan, seluruh kelompok pendapatan menunjukkan perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kelompok bawah mencatat kontraksi terdalam sebesar 7,1% YoY, diikuti kelompok atas kontraksi 1,5% YoY, sementara kelompok menengah masih tumbuh 0,4% YoY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














