Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Danantara mencatatkan perbaikan kinerja dalam setahun terakhir. Namun, ekonom menilai peningkatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan transformasi fundamental perusahaan.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, berdasarkan laporan Danantara untuk periode April 2025 hingga April 2026, sejumlah BUMN membukukan lonjakan laba. Pertamina misalnya mencatat kenaikan laba sekitar 80% menjadi Rp 24,9 triliun, sementara laba Pupuk Indonesia tumbuh lebih dari 200%. Di sisi lain, Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Semen Indonesia berhasil membalikkan kinerja dari rugi menjadi laba.
Menurut Yusuf, capaian tersebut perlu dilihat lebih dalam untuk membedakan apakah berasal dari perbaikan fundamental perusahaan atau hanya didorong kondisi pasar yang sedang menguntungkan.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Hadapi Permacrisis, Risiko PHK Massal Meningkat
"Untuk Krakatau Steel misalnya, saya melihat ada perbaikan yang lebih struktural karena kenaikan laba terjadi bersamaan dengan restrukturisasi utang, efisiensi operasional, dan penataan kembali portofolio bisnis. Artinya, yang membaik bukan hanya laporan laba rugi, tetapi juga kualitas neracanya," ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).
Namun, ia menilai kondisi berbeda terjadi pada BUMN yang bergerak di sektor komoditas. Menurutnya, kenaikan laba perusahaan-perusahaan tersebut masih sangat dipengaruhi oleh siklus harga komoditas global.
"Jadi, saya melihat hasilnya merupakan kombinasi antara keberhasilan restrukturisasi dan momentum harga komoditas yang sedang mendukung," katanya.
Yusuf menambahkan, transformasi yang dijalankan Danantara memang mulai mengarah pada pembenahan yang lebih mendasar. Hal itu terlihat dari fokus yang tidak lagi hanya pada restrukturisasi keuangan, tetapi juga mulai menyasar model bisnis perusahaan.
Selain itu, penyederhanaan struktur perusahaan dan penutupan anak usaha yang tidak produktif dinilai dapat mengurangi inefisiensi yang selama ini menjadi persoalan di banyak BUMN.
Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar masih berada pada aspek tata kelola perusahaan.
Baca Juga: Ekonom Menilai Perluasan Kawasan Tiga KEK Belum Cerminkan Minat Investasi Nasional
"Persoalan utama BUMN sebenarnya bukan hanya efisiensi biaya, melainkan kualitas tata kelola. Selama independensi pengelolaan, transparansi, dan mekanisme pengangkatan direksi belum benar-benar diperkuat, saya masih melihat capaian saat ini sebagai perbaikan kinerja keuangan tahap awal, belum sebagai transformasi yang benar-benar mengubah fondasi perusahaan," ujarnya.
Untuk proyeksi hingga akhir tahun, Yusuf menilai target laba konsolidasi BUMN sebesar Rp 350 triliun hingga Rp 360 triliun masih realistis untuk dicapai. Namun, menurutnya pertumbuhan tersebut diperkirakan masih akan ditopang oleh BUMN-BUMN besar seperti Himbara, Pertamina, MIND ID, Telkom, Semen Indonesia (SIG), dan PLN.
Ia mengingatkan, keberlanjutan perbaikan kinerja BUMN bergantung pada sejumlah faktor. Pertama, pemerintah perlu membatasi intervensi politik agar keputusan bisnis didasarkan pada pertimbangan ekonomi.
Kedua, transparansi harus ditingkatkan agar publik dan pasar dapat menilai perkembangan fundamental masing-masing BUMN secara objektif.
Selain itu, ketergantungan terhadap siklus harga komoditas juga perlu dikurangi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional.
"Kalau ketiga aspek ini berhasil diperkuat, maka perbaikan yang sekarang terlihat di laporan keuangan berpeluang menjadi transformasi yang berkelanjutan, bukan sekadar menikmati momentum pasar," tutup Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














