Reporter: kompas.com | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memprediksi Iran tidak akan lama menutup Selatan Hormuz.
Pasalnya, negara itu masih sangat bergantung pada pasokan minyak dan jalur ekspor minyak paling vital tersebut.
Hal ini disampaikan Luhut saat melaporkan dampak peran AS-Iran kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
"Jadi, saya pikir situasinya masih fluktuatif. Tapi sekali lagi seperti kami laporkan tadi, Iran juga punya kepentingan untuk mereka survive, jadi (Selat) Hormuz itu tidak mungkin akan ditutup seterusnya," kata Luhut, Jumat.
Ia mengaku masih akan melihat perkembangan dan potensi eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga: Kemnaker: 102.696 Orang Ikut Program Magang Nasional
Begitu pun menyiapkan tiga skenario yang berimplikasi pada naik atau turunnya harga minyak dunia.
Kendati demikian ia meyakini Indonesia masih akan baik-baik saja selama libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M.
"Oleh karena itu, kami datang dengan berbagai skenario dan kita lihat perkembangan dalam satu-dua minggu ke depan. Jadi saya kira selama lebaran saya kira akan semua baik-baik," ucap Luhut.
Adapun skenario pertama yang dipaparkan Luhut, yakni eskalasi konflik yang diprediksi dapat memicu harga minyak dunia melonjak ke angka 110 hingga 150 dolar AS per barrel.
Menurut Luhut, eskalasi dapat terjadi jika Iran melakukan serangan langsung aset Amerika di negara-negara Teluk, penutupan selat Hormuz lebih dari tujuh hari yang berimplikasi pada lonjakan premi asuransi serta biaya pengapalan, serangan besar proksi, dan kegagalan total dewan transisi semenjak kematian tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sehingga menciptakan instabilitas.
"Karena mereka (Iran) berharap akan terjadi transisi di Iran. Tapi kalau itu sampai gagal terus, itu juga nggak mudah untuk mengatasinya. Tapi saya tanya dari para mereka, mereka optimis itu akan terjadi, perlu kita cermati saja," tutur Luhut.
Sementara skenario kedua adalah kondisi prolong alias konflik berkepanjangan yang memicu harga minyak dunia berada di kisaran 80-110 dollar AS per barrel.
Kondisi itu dapat terjadi ketika terbatasnya akses Selat Hormuz dengan ancaman berulang, berlanjutnya serangan presisi terbatas, negosiasi berjalan lambat dengan pengetatan sanksi, sementara Iran berhasil memulihkan sebagian kapasitas rudal dan dronenya.
Usai Lebaran Sedangkan skenario ketiga adalah deeskalasi yang akan menurunkan harga minyak mentah di kisaran 65-80 dollar AS per barrel.
Kondisi ini terjadi ketika adanya gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional, tidak adanya gangguan distribusi di Selat Hormuz sehingga ekspor minyak Iran ke berbagai negara dapat berjalan normal, dan stabilnya dewan transisi sehingga transisi kepemimpinan terkendali.
"(Dengan) De-eskalasi kami juga akan melihat bahwa (harga minyak mentah) itu akan turun ke 65-80 dolar. Tapi kita semua jangan..., ya hati-hati mengenai hal ini," ujar Luhut.
Baca Juga: Wamenham Bakal Kawal Tuntas soal Teror Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/03/14/08515331/luhut-prediksi-iran-tak-akan-lama-tutup-selat-hormuz-masih-bergantung-ekspor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













