Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef Muhammad Rizal Taufikurahman menilai pelemahan Indeks PMI Manufaktur Indonesia ke level 51,2 pada Desember 2025, dari 53,3 pada November 2025, mencerminkan tekanan dari sisi permintaan serta meningkatnya kehati-hatian pelaku usaha.
Menurutnya, meski sektor manufaktur tersebut masih berada dalam fase ekspansi, namun faktor pendorongnya semakin terbatas.
"Konsumsi domestik pasca-puncak akhir tahun cenderung melunak, terutama dari kelas menengah yang daya belinya belum sepenuhnya pulih, sementara permintaan eksternal masih tertahan oleh lemahnya siklus manufaktur global," ungkap Rizal kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).
Sementara dari sisi produksi, pelaku industri merespons kondisi tersebut dengan menahan laju ekspansi. Hal ini tercermin dari melambatnya pesanan baru serta aktivitas pembelian input.
Baca Juga: Ekspansi Manufaktur RI Menurun pada Desember 2025, Sektor Usaha Masih Tertekan
Rizal menyebut, tekanan biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang belum sepenuhnya mereda turut menjadi faktor yang membebani kinerja sektor manufaktur.
Memasuki awal 2026, Rizal memperkirakan PMI manufaktur masih berpeluang bertahan di zona ekspansi. Namun, pergerakannya berisiko cenderung datar apabila tidak disertai penguatan kebijakan yang lebih terarah.
"Pemulihan tidak cukup bertumpu pada stimulus musiman, melainkan membutuhkan perbaikan fundamental daya beli melalui penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan dan stabilitas harga yang konsisten," ungkap Rizal.
Baca Juga: Sektor Padat Karya Tertekan, Apindo Wanti-Wanti Risiko PHK Mengintai di 2026
Dari sisi kebijakan, Rizal menekankan pentingnya akselerasi belanja produktif, perbaikan akses pembiayaan industri terutama bagi sektor padat karya, serta kepastian arah kebijakan industri dan perdagangan.
Langkah-langkah tersebut menjadi prasyarat agar ekspansi manufaktur tidak sekadar bertahan di atas ambang 50, tetapi benar-benar kembali menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Selanjutnya: Akuisisi SPBU ExxonMobil Tuntas, Emiten Prajogo Pangestu Menadah Pendapatan Berulang
Menarik Dibaca: 7 Film Populer Bertema Fashion untuk Fashion Enthusiast
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













