Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai posisi ekspansi Indeks PMI Manufaktur Indonesia yang melemah pada Desember 2025 ke level 51,2, meski masih berada di zona ekspansi merupakan dampak dari penurunan aktivitas sektor manufaktur.
Menurut data S&P Global, Indeks Pesanan Baru Manufaktur Indonesia tercatat turun dari 55,7 pada November 2025 menjadi 52 pada Desember 2025.
Penurunan ekspansi Indeks PMI Manufaktur Indonesia tersebut sejalan dengan melemahnya pesanan barang baru dan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.
"Kami menduga hal ini merupakan dampak dari penurunan aktivitas sektor manufaktur, yang melambat karena sejumlah pelaku industri manufaktur mengambil cuti panjang pada akhir tahun," ungkap Myrdal kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: Update BNPB: Tidak Ada Penambahan Korban Jiwa dari Banjir Sumatera Hari Ini
Ia menyebut, kondisi tersebut berbeda dibandingkan dengan pergerakan Indeks PMI Manufaktur pada tahun 2024 sebelumnya yang justru meningkat dari 49,6 pada November 2024 menjadi 51,2 pada Desember 2024.
"Situasi ini tentu menjadi sinyal peringatan bagi sektor manufaktur Indonesia, yang saat ini menghadapi berbagai tantangan dan tekanan," imbuhnya.
Lebih lanjut Myrdal menjelaskan sejumlah tantangan tersebut, Pertama, munculnya ancaman pencabutan tarif sebesar 19% atas ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, seiring dengan kekhawatiran terhadap kebijakan non-tarif.
Kedua, ketegangan geopolitik global yang masih tinggi hingga akhir tahun di kawasan Asia Timur, wilayah Indo-China, serta konflik di Rusia, Ukraina, dan Venezuela.
Ketiga, realitas pemulihan ekonomi global yang masih berjalan lambat. Keempat, terbatasnya ruang penurunan suku bunga kebijakan oleh bank sentral utama dunia pada 2026.
Kelima, bencana banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, di mana Sumatera Utara merupakan wilayah dengan kontribusi kuat terhadap sektor manufaktur di kawasan Sumatra.
Meski demikian, Myrdal melihat sektor manufaktur Indonesia masih akan melanjutkan fase ekspansi pada 2026. Prospek tersebut akan ditopang oleh beberapa faktor pendukung.
Pertama, iklim ekspansi usaha yang lebih kondusif melalui dukungan perbankan, yang tercermin dari penurunan suku bunga kredit meski berlangsung secara bertahap.
Kedua, dukungan kuat pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif, melalui upaya mengurai hambatan investasi, memberantas usaha ilegal dan peredaran barang ilegal, serta tidak adanya kenaikan pajak, seperti PPN atau cukai, bagi dunia usaha.
“Kami memproyeksikan sektor manufaktur Indonesia tumbuh sebesar 5,35% pada 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi 5,26% pada 2025,” pungkas Myrdal.
Baca Juga: Kemenkes Pastikan Influenza A(H3N2) Subclade K Terkendali di Indonesia
Selanjutnya: Valas Asia Bergerak Beragam pada Perdagangan Perdana Tahun 2026
Menarik Dibaca: Promo Alfamart Serba Gratis Periode 1-15 Januari 2026, Es Krim Magnum Beli 2 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













