kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Lapangan Usaha Akomodasi dan Makanan Minuman Tumbuh Melambat 4 Tahun Terakhir


Selasa, 06 Mei 2025 / 11:34 WIB
Lapangan Usaha Akomodasi dan Makanan Minuman Tumbuh Melambat 4 Tahun Terakhir
ILUSTRASI. lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makanan minuman (mamin) hanya tumbuh 5,75% year on year (yoy) pada kuartal I 2025.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makanan minuman (mamin) hanya tumbuh 5,75% year on year (yoy) pada kuartal I 2025.

Kinerja lapangan usaha di industri ini ke pertumbuhan ekonomi terus melambat dalam empat tahun terakhir.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mencatat, pada kuartal I 2022 akomodasi dan mamin tumbuh 6,57% yoy, kemudian meningkat menjadi 11,54% pada kuartal I 2023, namun turun menjadi 9,34% yoy pada kuartal I 2025, dan terus turun mencapai 5,75% yoy pada kuartal I 2025.

“Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh melambat, utamanya karena lapangan usaha akomodasi mengalami kontraksi 0,48% yoy,” tutur Amalia dalam konferensi pers, Senin (5/5).

Baca Juga: BPS Laporkan Perbaikan Indeks Ketimpangan Gender di Berbagai Aspek

Amalia menyebut, menurunnya kinerja lapangan usaha akomodasi tercermin dari menurunnya tingkat penghunian kamar (TPK) baik hotel bintang maupun non-bintang.

Meski demikian, lapangan usaha makanan minuman pada kuartal I 2025  tetap tumbuh sebesar 7,21% yoy.

Sejalan dengan itu, lapangan usaha di pertambangan mengalami kontraksi 1,23%, disebabkan oleh pertambangan batubara dan lignit yang mengalami kontraksi 0,91%, sejalan dengan menurunnya permintaan di pasar internasional.

“Selain itu logam terkontraksi 11,83% akibat adanya pemeliharaan besar yang direncanakan pada tambang tembaga dan emas di Papua Tengah,” kata Amalia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×