kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Lahan Myanmar & Kamboja cocok untuk pertanian.


Kamis, 14 Maret 2013 / 16:39 WIB
ILUSTRASI. Warga mencuci tangan sebelum memasuki area pasar di kawasan Tanjung Duren, Jakarta,


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Amal Ihsan

JAKARTA. Pemerintah berencana membuka sawah baru di Mayanmar dan Kamboja. Selain karena lahan di Indonesia terbatas, ini juga karena sebagian besar lahan pertanian di dua negara tetangga itu masih belum banyak digarap.

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengungkapkan, Kamboja dan Myanmar memiliki lahan dan iklim yang bagus untuk membuka sawah dan menanam padi. "Sudah banyak juga investor yang mau masuk," ujarnya di Jakarta, Kamis (14/3),

Meskipun demikian, Rusman mengatakan, pemerintah belum menentukan jangka waktu kapan mulai merealisasikan rencana tersebut dan berapa nilai investasinya. Yang jelas, menurut Rusman, Pemerintah Myanmar bersedia membuka diri bagi investasi Indonesia di bidang pertanian. "Kesempatan baik ini harus benar-benar bisa dimanfaatkan," katanya.

Menurut Rusman, industri pertanian di Myanmar sebenarnya bahkan sedikit lebih maju dibanding industri pertanian di Indonesia. Meskipun demikian, Kementerian Pertanian (Kemtan) tetap berharap, Myanmar mau memberikan keistimewaan bagi Indonesia dalam investasi di sektor pertanian. "Mereka membolehkan membangun perkebunan," ujarnya.

Sementara di Kamboja, Bulog sudah melakukan penjajakan di sana selama dua tahun terakhir. Bahkan Indonesia sudah berinvestasi dalam aspek pasca panen seperti penggilingan beras. br />

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×