Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2031 dapat mencapai kisaran 6,9% hingga 7,7% dalam skenario super optimistis. Adapun skenario dasar berada di kisaran 5,6%–6,4%, sementara skenario optimistis 6,1%–6,9%.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai proyeksi BI pada kisaran 6,9%–7,7% cukup realistis karena mencerminkan pendekatan konservatif terhadap tantangan struktural yang masih kuat.
Dengan produktivitas yang belum melonjak, investasi yang cenderung berhati-hati, serta transformasi industri yang belum sepenuhnya naik kelas, kisaran 6,7% dinilai sebagai baseline yang masuk akal. Sementara potensi menuju angka di atas 7% hanya bisa tercapai jika ada terobosan kebijakan yang mempercepat pergeseran struktur ekonomi.
Meski demikian, Rizal melihat masih ada sejumlah hambatan utama untuk mencapai proyeksi tersebut. Beberapa di antaranya adalah rendahnya produktivitas, lambatnya peningkatan kualitas industri, tingginya biaya logistik dan ketidakpastian regulasi, serta ruang fiskal yang semakin terbatas.
Baca Juga: Analisis Proyeksi BI: Tantangan RI Capai Pertumbuhan 7,7% pada 2031
“Tanpa perbaikan di empat area tersebut, kapasitas pertumbuhan Indonesia akan tetap terkunci pada level menengah. Karena itu, mitigasinya perlu fokus pada peningkatan skill tenaga kerja, hilirisasi yang benar-benar menciptakan nilai tambah, simplifikasi regulasi, digitalisasi logistik, dan pendalaman pembiayaan pembangunan,” tutur Rizal kepada Kontan, Minggu (30/11/2025).
Rizal menambahkan, jika pertumbuhan 6,9%–7,7% berhasil dicapai, kualitasnya akan ditentukan oleh siapa pendorong utamanya. Pertumbuhan disebut berkualitas bila ditopang oleh meningkatnya kontribusi manufaktur, lonjakan produktivitas melalui teknologi dan peningkatan keterampilan, serta investasi yang memperkuat industri bernilai tambah. Sebaliknya, bila pertumbuhan hanya bersumber dari konsumsi atau komoditas, maka kenaikan PDB cenderung dangkal dan tidak mendorong transformasi struktural.
Lebih lanjut, terkait target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, Rizal menilai target tersebut sangat berat karena kapasitas pertumbuhan potensial Indonesia saat ini masih berada di kisaran 5%–5,5%.
Baca Juga: Tumbuh Kuat, Simak Proyeksi BI Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026-2027
“Sementara akselerasi menuju 7% pun membutuhkan dorongan struktural besar,” ungkapnya.
Ia menegaskan, produktivitas Indonesia belum melonjak, peningkatan kualitas industri berjalan lambat, dan investasi belum cukup kuat untuk menciptakan lompatan pertumbuhan dalam waktu singkat.
Tanpa percepatan reformasi besar-besaran di sektor industri, tenaga kerja, logistik, dan pembiayaan pembangunan, target 8% lebih bersifat aspiratif ketimbang realistis.
“Proyeksi yang lebih masuk akal hingga 2029 masih berkisar 5,5%–6,5%, dengan peluang menyentuh 7% hanya jika eksekusi reformasi dilakukan sejak sekarang,” tandasnya.
Baca Juga: BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Hanya Tumbuh Maksimal 7,7% pada 2031
Selanjutnya: Atasi Kolesterol Tinggi: Daewoong Hadirkan Obat Kombinasi Inovatif
Menarik Dibaca: Resep Donat Mochi Super Chewy dan Lumer yang Anti Gagal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













