Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fenomena ruas jalan tol yang sepi peminat di sejumlah wilayah di Indonesia menjadi sorotan. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menilai, pemberian diskon atau penurunan tarif bukanlah obat mujarab untuk mengatasi masalah minimnya volume kendaraan tersebut.
Anggota BPJT Kementerian PU, Sonny Sulaksono menjelaskan bahwa kondisi tol yang sepi terjadi akibat realisasi lalu lintas harian yang meleset dari perencanaan awal. Padahal, tujuan utama pembangunan jalan bebas hambatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas konektivitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah yang dihubungkan.
Terkait wacana penurunan tarif untuk menarik minat pengguna, Sonny menyiratkan ketidaksetujuannya. Menurutnya, struktur tarif tol sangat berbeda dengan tarif angkutan umum seperti pesawat atau kereta api, apalagi harga barang konsumsi.
Baca Juga: Rencana Penerapan Kemasan Rokok Seragam Timbulkan Pro dan Kontra
"Tarif tol adalah pengembalian investasi jalan tol yang sudah diperhitungkan untuk masa konsesi tertentu. Jika tarif dipotong atau diturunkan, maka pengembalian investasinya akan makin sulit," ujar Sonny kepada Kontan.co.id, Minggu (30/11).
Sonny membeberkan bahwa dalam banyak kasus, kebijakan diskon tarif terbukti tidak mampu menaikkan jumlah lalu lintas secara signifikan. Artinya, insentif harga tidak serta merta membuat masyarakat beralih menggunakan jalan tol jika tidak ada kebutuhan mendesak.
Oleh karena itu, Sonny menekankan, solusi paling efektif untuk mengatasi jalan tol yang sepi secara ekonomi ini adalah dengan menciptakan pusat-pusat ekonomi baru. Pemerintah daerah dan pengembang perlu didorong untuk mempercepat pertumbuhan kawasan di sekitar pintu-pintu tol.
"Cara yang paling efektif adalah segera membuat bangkitan-bangkitan baru seperti kawasan perumahan, kawasan industri, pusat perdagangan, dan sebagainya yang men-generate pergerakan kendaraan," tegasnya.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengumumkan sejumlah ruas tol yang masih sepi dengan trafik di bawah 50% dari target dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).
Adapun tercatat ada 21 ruas tol yang dinilai dengan lalin yang rendah:
1. Tol Manado-Bitung, dikelola PT Jasamarga Manado Bitung
2. Tol Krian-Legundi-Bunder Manyar, dikelola PT Waskita Bumi Wira
3. Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, dikelola PT Jasamarga Bali Tol
4. Tol Cibitung-Cilincing, dikelola PT Cibitung Tanjung Priok Port
5. Tol Sigli-Banda Aceh, dikelola PT Hutama Karya (Persero)
6. Tol Lubuk Linggau-Curup-Bengkulu, dikelola PT Hutama Karya (Persero)
7. Tol Simpang Indralaya-Muara Enim, dikelola PT Hutama Karya (Persero)
8. Tol Palembang-Indralaya, dikelola PT Hutama Karya (Persero)
9. Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Pematang Siantar-Parapat, dikelola PT Hutama Marga Waskita
10. 6 Tol Dalam Kota, dikelola PT Jakarta Toll Road Development
11. Tol Serang-Panimbang, dikelola PT Wijaya Karya Serang Panimbang
12. Tol Semarang-Demak, dikelola PT PP Semarang Demak
13. Tol Yogyakarta-Solo-NYIA Kulonprogo, dikelola PT Jasamarga Jogja Solo
14. Tol Kanci-Pejagan, dikelola PT Semesta Marga Raya
15. Tol Pejagan-Pemalang, dikelola PT Pejagan Pemalang Toll Road
16. Tol Pemalang-Batang, dikelola PT Pemalang Batang Toll Road
17. Tol Mojokerto-Kertosono, dikelola PT Marga Harjaya Infrastruktur
18. Tol Gempol-Pasuruan, dikelola PT Jasamarga Gempol Pasuruan
19. Tol SS Waru-Bandara Juanda, dikelola PT Citra Margatama Surabaya
20. Tol Serpong-Cinere, dikelola PT Cinere Serpong Jaya
21. Tol Kayu Agung-Palembang, dikelola PT Waskita Sriwijaya Tol
Baca Juga: BI Proyeksikan Ekonomi Tumbuh 7,7% pada 2031, Ekonom: Masih Realistis
Selanjutnya: OJK Nilai Asuransi Mikro untuk Segmen UMKM Punya Potensi Besar bagi Asuransi Umum
Menarik Dibaca: Hasil Syed Modi India International 2025, Indonesia Bawa Pulang Juara Ganda Campuran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













