Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai, perlambatan kredit UMKM lebih dipengaruhi lemahnya permintaan pembiayaan dari pelaku usaha dibandingkan terbatasnya penyaluran kredit perbankan.
Chief Economist Perbanas, Winang Budoyo mengatakan, kondisi tersebut berbeda dengan kredit perbankan secara umum yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Baik pada segmen kredit modal kerja, investasi, maupun konsumsi. "Kondisi ini mengindikasikan ada persoalan mendasar pada segmen UMKM," katanya, belum lama ini.
Berdasarkan hasil survei dan focus group discussion (FGD) Perbanas, hampir 90% UMKM formal maupun informal tidak mengajukan pinjaman karena merasa belum membutuhkan kredit untuk mengembangkan usaha mereka.
Sementara itu, sekitar 90% pembiayaan usaha masih berasal dari dana pribadi (self-funded). Temuan tersebut menunjukkan, tantangan pengembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan akses pembiayaan, tetapi juga kesiapan pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis mereka.
Sejalan kebutuhan tersebut, berbagai pihak mulai memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui program pendampingan yang lebih terarah. Direktur Eksekutif Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek), Ivi Anggraeni mengatakan, program tersebut dirancang agar pelaku UMKM tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tapi juga mampu menerapkannya dalam operasional usaha sehari-hari sehingga lebih siap bertumbuh.
Baca Juga: Danantara Bakal Sulap PSEL Bali Jadi Kawasan Rekreasi dan Edukasi Bersih
Salah satu fokus utama program in memastikan setiap peserta mampu menerjemahkan materi pelatihan menjadi langkah perbaikan yang konkret bagi usahanya.
"Dari proses pendampingan kami melihat, peserta semakin siap dalam aspek pengelolaan usaha, pengembangan produk, serta pemanfaatan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas," kata Ivi, dalam keterangannya, Selasa (7/7).
Melalui program yang menggancdeng Samporna untuk Indonesia itu, sebanyak 82 pelaku UMKM dari 19 desa di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengikuti pelatihan dan pendampingan. Mayoritas peserta berasal dari sektor makanan dan minuman yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal.
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi menilai, kerjasama antara dunia usaha, lembaga pendamping, dan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing UMKM. Menurut dia, pendekatan semacam ini dapat membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengembangkan pasar.
"Program pengembangan UMKM yang tidak hanya menyasar kebutuhan dasar, tetapi juga penguatan kapasitas pada level yang lebih lanjut," ujar Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














