kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45691,13   20,36   3.03%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Konsumsi domestik masih jadi penopang pertumbuhan PDB Indonesia di tahun 2019 lalu


Rabu, 05 Februari 2020 / 12:17 WIB
Konsumsi domestik masih jadi penopang pertumbuhan PDB Indonesia di tahun 2019 lalu
ILUSTRASI. Suasana penjualan kebutuhan pokok di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (04/02). Pengeluaran konsumsi domestik masih jadi penopang pertumbuhan PDB Indonesia di sepanjang tahun 2019 lalu. KONTAN/Fransiskus Simbolon

Reporter: Grace Olivia | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2019 mencapai 5,02% Menilik sumber pertumbuhan PDB menurut pengeluaran, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi domestik masih menjadi pendorong utama perekonomian. 

Komponen konsumsi LNPRT tumbuh paling tinggi yaitu 10,62%  year-on-year (yoy). Namun  porsi komponen ini terhadap struktur PDB hanya 1,3%.

Baca Juga: PDB Indonesia tumbuh 5,02% sepanjang tahun 2019 lalu

“Pertumbuhan konsumsi LNPRT ini paling tinggi karena adanya pelaksanaan pemilu pada tahun 2019 lalu,” terang Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/2). 

Sementara, komponen konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,04% yoy dengan porsi terbesar terhadap struktur PDB yaitu mencapai 56,62%. 

Pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan 3,25% yoy. Porsi komponen ini terhadap PDB sebesar 8,75%. 

Baca Juga: Proyeksi IHSG: Bergantung pada Data Pertumbuhan Ekonomi

Adapun, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi hanya tumbuh 4,45%. Komponen ini memegang porsi terbesar kedua terhadap PDB yaitu sebesar 32,33%

Terakhir, komponen ekspor dan impor mengalami kontraksi dengan pertumbuhan masing-masing -0,87% dan -7,69% yoy. 

Porsi komponen ekspor terhadap PDB sebesar 18,41%, sedangkan porsi impor -18,4% terhadap PDB. 

Baca Juga: Ekonom CORE proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 melambat 0,1%

“Komponen ekspor dan impor masih mengalami kontraksi. Ini menjadi PR besar agar neraca perdagangan kita ke depan tidak mengalami defisit lagi. Ini jadi tantangan besar di tengah situasi ekonomi global yang masih melambat saat ini,” tutur Suhariyanto. 




TERBARU

Close [X]
×