kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.541   41,00   0,23%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kisah Haru Nenek Jumaria, Menabung Uang di Ember hingga Bisa Naik Haji


Kamis, 07 Mei 2026 / 14:36 WIB
Kisah Haru Nenek Jumaria, Menabung Uang di Ember hingga Bisa Naik Haji
ILUSTRASI. Nenek Jumaria P. Sire Said (70), Jemaah Haji asal Maros Sulawesi Selatan (KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – MADINAH. Sebuah ember tua yang disimpan di bawah tempat tidur di rumah sederhana di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi saksi perjalanan panjang hidup Nenek Jumaria P. Sire Said.

Dari tempat itulah perempuan berusia sekitar 70 tahun tersebut menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci.

Baca Juga: Jadi Identitas Budaya, Jemaah Haji Asal Gunungkidul Kompak Kenakan Blangkon

Puluhan tahun lamanya, Nenek Jumaria menyisihkan hasil kerja di sawah, panen padi, hingga upah kecil yang ia terima dari menggarap kebun milik orang lain.

Hidup seorang diri tanpa suami dan anak, ia tetap teguh menyimpan harapan untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Kisahnya kemudian menjadi perhatian publik setelah ia dipilih sebagai salah satu figur dalam dokumentasi Program Makkah Route di Embarkasi Makassar. Video kesehariannya viral di media sosial dan menyentuh banyak orang.

“Saya simpan mi di ember-ember uangnya. Saya taruh di bawah tempat tidur, ditutup kain-kain jelek supaya tidak ada yang tahu,” ujar Nenek Jumaria lirih, Rabu (7/5/2026).

Baca Juga: Dirjen Bea Cukai Terseret Kasus Korupsi, Menkeu Purbaya Tunggu Proses Hukum

Sehari-hari, ia bekerja di sawah sejak pagi. Sawah yang digarap merupakan peninggalan orangtuanya, ditambah lahan milik warga lain yang ia kelola untuk tambahan penghasilan.

“Kalau pagi jam 6 pergi ke sawah, bawa air setengah liter. Habis itu pulang, mandi, makan, tidur sebentar lalu salat,” tuturnya.

Dari hasil panen dan upah kecil itulah ia menabung. Jumlahnya tidak besar, terkadang hanya ratusan ribu rupiah.

“Kadang Rp 500 ribu, kadang Rp 700 ribu. Ada juga dari kebun yang saya kerjakan, dikasih Rp 200 ribu, saya simpan,” katanya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Nenek Jumaria tetap berusaha tidak menyentuh tabungannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia memilih hidup sangat sederhana.

“Ambil saja daun ubi, saya masak. Masak apa yang ada saja,” ujarnya.

Baca Juga: Nenek Jumaria Asal Maros Viral Jadi Ikon Makkah Route Arab Saudi

Keinginan berhaji, menurutnya, berangkat dari pesan orangtuanya semasa hidup. Ia selalu mengingat pesan tersebut hingga kini.

“Kalau kau punya uang, pergi ko tanah suci. Pergi mako karena saya sudah tidak bisa pergi,” kenangnya menirukan pesan orangtuanya.

Meski akhirnya berhasil tiba di Tanah Suci, Nenek Jumaria mengaku sempat merasa bingung dan sedih saat pertama kali sampai.

Ia teringat orangtuanya dan tak menyangka bisa berada di tempat yang selama ini hanya menjadi impian.

Namun perlahan perasaan itu berubah menjadi rasa syukur dan ketenangan.

“Saya suka di sini, tenang. Saya berdoa semoga panjang umur dan bisa ke sini lagi,” katanya.

Baca Juga: Kemenhaj: Jumlah Jemaah haji yang Wafat Mencapai 12 Orang

Ketua Kloter UPG 14 Siti Hawaisyah mengatakan, Nenek Jumaria dipilih dalam dokumentasi Makkah Route karena kisah hidup dan keteguhannya yang dinilai inspiratif.

“Beliau tidak pernah absen manasik. Lebih dari 80 kali pertemuan selalu hadir,” ujar Siti.

Selain itu, Nenek Jumaria juga dikenal mandiri dan memiliki fisik yang kuat meski usianya sudah lanjut.

“Dia mandiri, kuat sekali,” tambahnya.

Proses dokumentasi dilakukan selama satu hari di kampung halaman Nenek Jumaria di Maros.

Namun setelah tayang di akun Instagram resmi Makkah Route, kisah tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial.

Siti mengatakan warga kampung juga antusias menyaksikan proses pengambilan gambar tersebut.

“Waktu itu masyarakat datang semua, berbondong-bondong menyaksikan proses syuting,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×