kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Keyakinan Konsumen Turun Agustus 2025, Kelas Menengah-Bawah Paling Tertekan


Kamis, 11 September 2025 / 11:30 WIB
Keyakinan Konsumen Turun Agustus 2025, Kelas Menengah-Bawah Paling Tertekan
ILUSTRASI. Indeks Keyakinan Konsumen-Konsumen berbelanja kebutuhan pokok di pasar ritel modern di Jakarta, Senin (11/08/2025). Indeks keyakinan konsumen (IKK) mengalami penurunan pada Agustus 2025, atau mencapai 117,2, lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya sebesar 118,1.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Sedangkan minat pada instrumen berisiko (emas/saham) melemah dan rencana pembelian rumah turun, yang mengindikasikan tekanan terhadap prospek KPR, serta kecenderungan konsumen memilih instrumen konservatif.

Lebih lanjut, komponen persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini juga turun lebih tajam pada Agustus 2025 atau turun 1,5 poin menjadi 105,1, dipicu indikasi lemahnya daya beli dan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja.

Tim ekonom BRI menilai, menurunnya persepsi masyarakat terhadap ekonomi saat ini juga mengindikasikan bahwa tekanan dari sisi kondisi riil mulai lebih dominan dalam membatasi keyakinan konsumen.

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Program PINTAR untuk Dorong Inklusi Keuangan Desa

Selanjutnya, ekspektasi konsumen ke depan juga terkoreksi pada Agustus 2025 sebesar 0,4 poin menjadi 129,2, meski levelnya masih cukup tinggi.

“Pelemahan ini menandakan konsumen mulai mengurangi optimisme terhadap prospek pendapatan maupun kesempatan kerja, sehingga dapat berdampak pada laju konsumsi rumah tangga pada periode mendatang,” tulis laporan tersebut.

Tim ekonom PPM BRI juga menilai, risiko pelemahan konsumsi rumah tangga perlu diantisipasi dengan memperketat seleksi penyaluran kredit konsumsi, agar pertumbuhan kredit tidak menimbulkan tekanan kualitas aset di tengah turunnya optimisme konsumen.

Baca Juga: Rahayu Saraswati Mundur dari DPR RI

Selanjutnya, kelas menengah-bawah yang makin tertekan berpotensi meningkatkan risiko NPL pada segmen ini. Bank perlu mengarahkan fokus penyaluran kredit pada segmen dengan daya beli lebih robust, sambil menjaga pengendalian risiko pada segmen rentan.

Kemudian, ekspektasi penghasilan dan lapangan kerja yang menurun menandakan potensi pelemahan kemampuan bayar, sehingga monitoring ketat pada debitur eksisting perlu diperkuat untuk menghindari lonjakan restrukturisasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×