kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Ketidakpastian Global Membayangi, Industri Diproyeksi Membaik Bertahap Semester II


Senin, 13 Juli 2026 / 17:38 WIB
Ketidakpastian Global Membayangi, Industri Diproyeksi Membaik Bertahap Semester II
ILUSTRASI. Kalangan usaha memasuki paruh kedua tahun ini dengan sikap cautious optimism atau optimistis secara hati-hati. (Dok/Kadin Indonesia)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha menilai prospek sektor industri pada semester II-2026 masih memiliki peluang untuk membaik. Kendati demikian, perbaikan tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap karena dunia usaha masih dibayangi ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik yang terus berkembang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, kalangan usaha memasuki paruh kedua tahun ini dengan sikap cautious optimism atau optimistis secara hati-hati.

"Memang dibandingkan puncak eskalasi konflik beberapa waktu lalu, tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik mulai sedikit mereda. Namun kondisinya belum sepenuhnya kembali seperti sebelum dinamika geopolitik terjadi," ujar Shinta kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Menurut Shinta, perkembangan situasi di Timur Tengah pada awal Juli kembali memperlihatkan adanya eskalasi sehingga tingkat ketidakpastian global masih relatif tinggi. Dalam kondisi tersebut, pelaku usaha tetap mengedepankan manajemen risiko, memperkuat ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), serta bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi maupun ekspansi bisnis.

Baca Juga: S&P Masih Soroti Kesehatan Fiskal Indonesia Meski Rating BBB Bertahan

Dari sisi domestik, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas industri tengah memasuki fase moderasi. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat turun menjadi 46,9 pada Juni 2026, dari posisi di atas 53 pada awal tahun. Penurunan PMI tersebut mencerminkan kontraksi aktivitas manufaktur akibat melemahnya permintaan baru, baik dari pasar domestik maupun ekspor.

Tren serupa juga terlihat pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian. IKI turun dari level 54,12 pada Januari menjadi sekitar 52,90 pada Juni 2026. Meski masih berada di zona ekspansi, penurunan tersebut menunjukkan optimisme pelaku industri menjadi lebih terukur.

Selain itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia turut mengalami penurunan, dari 226,9 pada April menjadi 223,4 pada Mei 2026. Kondisi ini mengindikasikan adanya moderasi permintaan domestik yang pada akhirnya memengaruhi aktivitas produksi dan perdagangan.

Dari faktor eksternal, pelaku usaha juga mencermati berakhirnya tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama enam tahun terakhir. Meskipun defisit perdagangan pada Mei 2026 terutama dipicu oleh peningkatan impor minyak dan gas (migas), pelemahan ekspor menunjukkan bahwa permintaan global belum sepenuhnya pulih.

Situasi tersebut membuat tekanan terhadap industri yang berorientasi ekspor masih cukup besar. Oleh karena itu, prospek sektor industri pada semester II-2026 dinilai sangat bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi global maupun domestik.

"Stabilitas geopolitik, perbaikan permintaan dunia, kepastian rantai pasok global, penguatan daya beli masyarakat, percepatan investasi, deregulasi, serta kepastian kebijakan akan menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan dunia usaha," katanya.

Baca Juga: Istana: Presiden Tak Akan Keluarkan Keppres Soal Pengunduran Diri Febrie Adriansyah

Rantai Pasok Global Belum Pulih Sepenuhnya

Di tengah mulai turunnya harga minyak dunia ke level yang mendekati kondisi sebelum konflik, Shinta menilai aktivitas produksi dan rantai pasok global belum sepenuhnya kembali normal.

Menurutnya, premi asuransi pelayaran dan biaya keamanan pengiriman melalui jalur-jalur strategis, termasuk Selat Hormuz, masih berada pada level yang relatif tinggi. Hal tersebut terjadi karena persepsi risiko di pasar global belum sepenuhnya hilang.

Selain itu, terdapat jeda waktu (time lag) dalam rantai pasok internasional. Banyak perusahaan telah mengamankan kontrak pembelian bahan baku dan pengiriman sejak beberapa bulan sebelumnya. Akibatnya, manfaat dari penurunan harga energi belum dapat dirasakan secara langsung oleh pelaku industri.

"Penurunan harga minyak mentah juga tidak langsung tercermin pada harga barang, tarif angkutan maupun tiket transportasi. Selama biaya logistik dan distribusi masih tinggi, sebagian beban biaya tersebut masih diteruskan ke harga jual," jelas Shinta.

Karena itu, dunia usaha masih terus memantau perkembangan geopolitik secara intensif guna mengantisipasi potensi eskalasi konflik yang dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.

Meski tantangan global masih membayangi, optimisme terhadap pemulihan industri nasional pada semester II-2026 tetap terjaga. Namun, optimisme tersebut dibangun di atas kewaspadaan terhadap berbagai risiko eksternal dan domestik yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×