kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.888.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.158   1,00   0,01%
  • IDX 7.621   -2,20   -0,03%
  • KOMPAS100 1.052   -3,78   -0,36%
  • LQ45 757   -2,62   -0,35%
  • ISSI 277   -0,92   -0,33%
  • IDX30 403   -0,40   -0,10%
  • IDXHIDIV20 488   -0,78   -0,16%
  • IDX80 118   -0,36   -0,30%
  • IDXV30 138   0,41   0,30%
  • IDXQ30 129   -0,01   -0,01%

Kemensos Ungkap Data April 2026: 25.000 KPM Baru, Sinyal Kemiskinan Kian Bertambah


Kamis, 16 April 2026 / 15:41 WIB
Kemensos Ungkap Data April 2026: 25.000 KPM Baru, Sinyal Kemiskinan Kian Bertambah
ILUSTRASI. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Tribunnews/Jeprima)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Sosial (Kemensos) mengungkap hasil pemutakhiran data bantuan sosial (bansos) per April 2026 ada penambahan sekitar 25.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) baru. Temuan ini memunculkan sinyal bahwa persoalan kemiskinan belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf menyampaikan tambahan penerima berasal dari pembaruan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) volume kedua yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) melalui verifikasi dan validasi lapangan.

Saifullah menegaskan pembaruan data dilakukan secara berkala untuk memastikan bantuan lebih tepat sasaran sekaligus memperbaiki kualitas basis data penerima.

Baca Juga: Dongkrak Penerimaan Daerah, Jambi Raup Ratusan Miliar dari PetroChina

“Pembaruan data dilakukan secara berkala untuk meningkatkan akurasi dan memastikan bansos tepat sasaran. Kami ingin memastikan bahwa bantuan ini benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak, sekaligus meminimalkan kesalahan data, baik yang tidak tepat sasaran maupun yang selama ini belum terdata,” ujar Saifullah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menambahkan, proses verifikasi dilakukan secara menyeluruh hingga ke lapangan agar data yang digunakan pemerintah semakin presisi.

“Karena itu, kami lakukan verifikasi dan validasi bersama BPS secara langsung di lapangan. Dengan cara ini, kami bisa melihat kondisi riil masyarakat dan memastikan bahwa setiap perubahan status ekonomi bisa segera tercermin dalam data,” katanya.

Dari hasil verifikasi, Kemensos menyaring 77.014 keluarga yang sebelumnya belum memiliki klasifikasi kesejahteraan. Hasilnya, sebanyak 25.665 keluarga masuk kelompok desil 1–4 atau kategori layak menerima bantuan. Sementara itu, 1.511 keluarga masuk desil 5–10 dan dinilai tidak layak menerima bansos.

Penambahan ini menjadi basis perluasan penerima bansos pada penyaluran Triwulan II 2026. Hanya saja, di saat bersamaan Kemensos juga mencoret 11.014 KPM dari daftar penerima karena tergolong inclusion error atau tidak lagi masuk kategori miskin maupun rentan.

Baca Juga: BGN: Motor Listrik MBG untuk Percepat Distribusi di Wilayah Sulit Akses

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai pembaruan data tersebut justru mencerminkan jumlah kelompok miskin belum menurun. ia menyebut tren penambahan data penerima menunjukkan target pengentasan kemiskinan belum tercapai.

“Kalau dilihat, datanya justru bertambah. Artinya target 0% kemiskinan itu belum terwujud. Jadi ini menunjukkan bahwa jumlah masyarakat miskin belum turun, bahkan cenderung meningkat jika melihat pembaruan data terbaru ini,” katanya.

Ia menambahkan, indikasi tersebut sejalan dengan berbagai temuan di lapangan yang menunjukkan tekanan ekonomi masyarakat masih tinggi.

“Kalau mengacu pada berbagai informasi di lapangan, angkanya bisa mendekati sekitar 17%. Ini yang harus menjadi perhatian karena berarti upaya penurunan kemiskinan belum optimal,” ujarnya.

Trubus juga menyoroti persoalan integrasi data antarlembaga yang dinilai belum sinkron.

“Ini problemnya di data. Antarkementerian dan lembaga belum sepenuhnya terbuka dan terintegrasi. Padahal semua membutuhkan data yang sama. Harus ada satu data Indonesia yang benar-benar sinkron supaya kebijakannya tidak bias,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan bansos sebagai instrumen utama pengentasan kemiskinan.

Baca Juga: Berlaku Mei 2026, Pemerintah Perbarui Mekanisme Restitusi Pajak

“Jangan hanya mengandalkan bansos. Harus ada program padat karya. Jadi masyarakat tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga didorong untuk bekerja dan meningkatkan pendapatan. Itu yang bisa mendorong mereka naik kelas dari miskin ke menengah,” katanya.

Di tengah pembaruan ini, masyarakat diminta aktif mengecek status penerimaan bansos secara mandiri. Berikut langkah-langkahnya:

Cara cek bansos melalui situs resmi:

  1. Buka laman cekbansos.kemensos.go.id
  2. Masukkan data wilayah (provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa)
  3. Ketik nama lengkap sesuai KTP
  4. Masukkan kode captcha
  5. Klik “Cari Data”

Cara cek bansos melalui aplikasi:

  1. Unduh aplikasi “Cek Bansos” di Play Store atau App Store
  2. Daftar dan lengkapi data diri
  3. Unggah KTP dan swafoto
  4. Login ke aplikasi
  5. Cek status pada menu profil

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×