Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kredatif subsektor gim di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang kian melesat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan jumlah pemain, penetrasi internet yang semakin luas, serta adopsi teknologi digital menjadi pendorong utama ekspansi industri ini.
Pemerintah mencatat nilai ekspor pengembang gim Indonesia pada tahun 2025 telah menembus angka US$ 60,8 juta, menjadikannya penyumbang ekspor terbesar keempat setelah subsektor fesyen, kriya, dan kuliner.
Sejalan dengan itu, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) berupaya menjaring aspirasi langsung dari para pengembang, investor, dan praktisi guna mengevaluasi serta memperkuat kebijakan industri gim di tanah air.
Hal itu dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan Public Hearing Ekosistem Gim Nasional bertajuk "Penguatan dalam Perspektif Praktisi dan Pengusaha Industri Gim”.
Baca Juga: Kemenko PM Sebut Kasus Amsal Jadi Alarm Keras Bagi Masa Depan Ekraf
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Leontinus Alpha Edison, mengapresiasi pertumbuhan subsektor gim nasional yang kian pesat.
Meski ekspor pengembang gim terbesar keempat dari ekonomi kreatif, Leontinus menekankan perlunya melihat kondisi riil, di mana pangsa pasar gim lokal di dalam negeri masih sekitar 1% dan didominasi produk impor.
Ia menyebut pemerintah telah mendorong percepatan pengembangan industri melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024. “Tujuan agar gim lokal mampu menjadi tuan rumah di pasar domestik sekaligus bersaing di tingkat global,” kata dia dalaï keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Leontinus juga menegaskan pentingnya partisipasi publik dalam perumusan kebijakan. Menurutnya, pemerintah menyadari implementasi regulasi kerap menghadapi tantangan struktural di lapangan. Karena itu, melalui forum public hearing, pemerintah memposisikan diri sebagai pendengar untuk menyerap berbagai masukan pelaku industri, mulai dari kendala pendanaan hingga dominasi publisher asing.
Baca Juga: Ekonomi Kreatif Tumbuh 5,69%, Nilai Ekspor Lampaui Target 2025
Ia menambahkan, masukan langsung dari praktisi menjadi krusial agar kebijakan yang dihasilkan sesuai kebutuhan nyata industri, bukan sekadar asumsi birokrasi. Hasil diskusi tersebut akan dirumuskan menjadi langkah konkret, termasuk dalam bentuk policy brief, guna memperkuat ekosistem gim nasional.
Senada, CEO Toge Productions, Kris Antoni Hadiputra, mengapresiasi inisiatif pemerintah yang membuka ruang dialog dengan pelaku industri. Ia menilai forum tersebut memberi harapan agar kebijakan ke depan lebih selaras dengan kebutuhan di lapangan dan dapat mendorong gim lokal naik kelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












