kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Kemenkes: Pemerintah Belum Deteksi Kasus Varian Deltacron di Indonesia


Rabu, 16 Maret 2022 / 14:12 WIB
ILUSTRASI. Juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, hingga saat ini, pemerintah belum mendeteksi kasus varian Deltacron di Indonesia.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kesehatan atau Kemenkes memastikan, varian Deltacron, gabungan Delta dan Omicron, belum masuk ke Indonesia.

"Hingga saat ini, pemerintah belum mendeteksi kasus varian Deltacron di Indonesia dan kita terus akan memantau," kata Siti Nadia Tarmizi, juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Selasa (15/3).

Menurut Nadia, varian Deltacron sudah terdeteksi di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Belanda, Perancis, dan Denmark.

Meski begitu, "Vaksin Covid-19 jenis apapun yang saat ini kita gunakan masih efektif untuk mempertahankan diri dari virus," tegasnya.

Kuncinya: harus melengkapi vaksinasi dua dosis serta perlu menambah dosis ketiga atau booster untuk menambah pertahanan dari varian Deltacron.

Baca Juga: Turun, Indonesia Masih Masuk 5 Besar Negara dengan Kematian Tertinggi Akibat Covid-19

"Tidak lupa, tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat,” imbuh Nadia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengetahui laporan tentang varian rekombinan virus corona baru varian Delta dan Omicron.

"Informasi epidemiologis dan sequencing saat ini untuk rekombinan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda penularan yang cepat atau perubahan keparahan klinis," sebut WHO dalam Pembaharuan Epidemiologi Mingguan Covid-19 yang terbit Selasa (8/3) pekan lalu.

WHO menyebutkan, hanya beberapa kluster di beberapa negara yang memiliki kasus rekombinan Delta dan Omicron yang telah dilaporkan hingga saat ini. 

"Dan, menunjukkan tingkat penularan yang sangat rendah hingga hampir tidak terdeteksi ke kontak. Tidak ada rekombinan yang telah diberi nama garis keturunan Pango," ungkap WHO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×