kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.891   16,00   0,09%
  • IDX 7.389   -51,51   -0,69%
  • KOMPAS100 1.027   -9,91   -0,95%
  • LQ45 752   -7,70   -1,01%
  • ISSI 260   -2,22   -0,85%
  • IDX30 399   -2,52   -0,63%
  • IDXHIDIV20 491   -4,11   -0,83%
  • IDX80 115   -1,17   -1,01%
  • IDXV30 133   -1,68   -1,25%
  • IDXQ30 129   -0,54   -0,42%

Penerimaan Kepabeanan Cukai Lanjutkan Kontraksi Dua Bulan Beruntun


Rabu, 11 Maret 2026 / 17:04 WIB
Penerimaan Kepabeanan Cukai Lanjutkan Kontraksi Dua Bulan Beruntun
ILUSTRASI. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Dok/Kemenkeu)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai pada Januari hingga Februari 2026 mencapai Rp 44,9 triliun. 

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa realisasi ini mengalami penurunan 14,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Suahasil menjelaskan bahwa kondisi ini berbeda dengan penerimaan pajak yang justru mencatat kenaikan hingga Rp 57 triliun di atas realisasi tahun lalu. 

"Kalau pajak tadi Rp 57 triliun di atas yang tahun lalu, kalau yang kepabeanan cukai sekitar Rp 7 triliun di bawah yang tahun lalu," ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita, Rabu (11/3).

Baca Juga: Menkeu Purbaya: APBN Masih Kuat, Belum Perlu Diubah

Suahasil merinci bahwa kontraksi penerimaan kepabeanan dan cukai disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, penerimaan cukai mengalami kontraksi sebesar 13,3% atau hanya terealisasi Rp 34,4 triliun.

Kondisi ini dipicu oleh penurunan produksi rokok yang terjadi pada akhir tahun 2025. Namun demikian, ia menyampaikan sinyal positif dengan menyebutkan bahwa jumlah produksi rokok mulai menunjukkan kenaikan di awal tahun 2026. 

Suahasil juga mengingatkan mekanisme pita cukai yang berlaku, di mana pita cukai yang telah dibeli dapat dilekatkan pada produk dalam rentang dua bulan ke depan.

"Jadi kita akan lihat moga-moga dalam dua bulan kedepan ini akan menjadi lebih baik untuk penerimaan cukai," katanya.

Faktor kedua yang menekan penerimaan adalah bea keluar yang terkontraksi cukup dalam, yakni sebesar 48,8% atau realisasinya hanya Rp 2,8 triliun. 

Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) pada tahun 2026 dibandingkan dengan harga di tahun 2025. 

Sementara itu, realisasi bea masuk dalam dua bulan pertama 2026 tercatat sebesar Rp 7,8 triliun, atau tumbuh 1,7% secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan bea masuk ini sejalan dengan perkembangan aktivitas impor Indonesia yang masih menunjukkan tren ekspansi.

Baca Juga: Defisit APBN Sentuh Rp 135,7 Triliun, Purbaya Sebut Efek Percepatan Belanja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×