kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.939   -2,00   -0,01%
  • IDX 5.916   -20,42   -0,34%
  • KOMPAS100 763   -2,23   -0,29%
  • LQ45 588   -2,91   -0,49%
  • ISSI 205   -0,79   -0,38%
  • IDX30 327   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 420   -2,30   -0,54%
  • IDX80 87   -0,25   -0,29%
  • IDXV30 116   -0,10   -0,09%
  • IDXQ30 107   -0,90   -0,84%

Kelas Menengah Makin Susut, Pemerintah Didesak Perluas Insentif Pajak


Selasa, 13 Oktober 2026 / 09:50 WIB
Kelas Menengah Makin Susut, Pemerintah Didesak Perluas Insentif Pajak
ILUSTRASI. ekspor,impor,pelabuhan,petikemas (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menilai, penguatan daya beli kelas menengah tidak cukup mengandalkan bantuan jangka pendek.

Pemerintah perlu memastikan biaya kebutuhan pokok rumah tangga, termasuk pendidikan, kesehatan, perumahan, dan transportasi, tidak semakin membebani pendapatan masyarakat.

Di samping insentif fiskal, penciptaan lapangan kerja produktif dan peningkatan upah riil juga perlu menjadi bagian dari strategi pemerintah.

Baca Juga: Insentif Pajak PFII, Dinilai Tak Sejalan dengan Pajak Minimum Global

Dengan begitu, daya beli dapat diperkuat melalui peningkatan pendapatan masyarakat, bukan semata-mata bergantung pada bantuan pemerintah.

Rizal juga mendorong agar insentif bagi dunia usaha dikaitkan dengan komitmen menambah tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas.

Dengan skema tersebut, dukungan fiskal diharapkan tidak hanya meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pekerja melalui perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×