kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Ke Eropa, Jokowi cari perusahaan training


Minggu, 17 April 2016 / 21:14 WIB
Ke Eropa, Jokowi cari perusahaan training


Reporter: Muhammad Yazid | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Pemerintah akan mengundang perusahaan di bidang pelatihan dan penyiapan tenaga kerja asal Jerman untuk menanamkan modalnya di Tanah Air. Rencana itu merupakan bagian dari kunjungan kerja Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri terkait ke empat negara di Eropa, yakni Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda pada pekan ini.

Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, perusahaan training asal negeri Panser cukup andal, sehingga pemerintah tertarik untuk mengembangkan sektor ini. "Di Indonesia tidak jalan, artinya memang kami punya kelembagaan, tapi kami ingin mengundang untuk mendapatkan contoh mekanisme training dari mereka," kata dia, akhir pekan lalu.

Di berbagai negara maju, peningkatan kompetensi tenaga kerja lebih banyak didorong oleh sektor swasta ketimbang oleh lembaga milik pemerintah. Yakni, lewat perusahaan-perusahaan training serta proses standarisasi tertentu.

Darmin mengakui, standarisasi tenaga kerja lewat lembaga pemeruntah seperti Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Balai Latihan Kerja (BLK) masih kurang optimal. Sehingga, perlu masukan dari investor luar dan swasta untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja di dalam negeri.

Sayangnya, dia tidak menyebutkan calon investor mana saja yang bakal ditawarkan pemerintah. "Soal berapa perusahaan itu tidak penting, tapi kami ingin juga melihat seperti mekanisme, peraturan, dan kelembagaannya, dan apakah juga bisa dikerjasamakan untuk belajar bagaimana caranya," kata dia.

Sementara, Franky Sibarani Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengatakan, juga akan mengundang produsen farmasi Jerman untuk memperluas investasi di Indonesia. Pasalnya, negara ini merupakan sumber investasi sektor farmasi keempat terbesar di dunia dengan nilai sebesar US$ 4,33 miliar.

Menurutnya, potensi pasar farmasi Indonesia masih terbuka lebar. “Pasar di Indonesia berpotensi untuk tumbuh dua kali lipat pada 2018 dibandingkan 2013, dan diperkirakan berada di peringkat 20 besar dunia yang didorong oleh tumbuhnya masyarakat kelas menengah," kata dia dalam keterangan pers.

Franky bilang, pihaknya optimistis investor asal Jerman akan tertarik masuk ke Indonesia mengingat sektor ini sudah dikeluarkan dari daftar negatif investasi (DNI), di mana sebelumnya penanaman modal asing (PMA) maksimal hanya 85%. Dengan masuknya investor diharapkan dapat mengurangi impor bahan baku untuk industri obat jadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×