kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kata ekonom INDEF tentang dampak perlambatan ekonomi Papua terhadap PDB nasional


Jumat, 30 Agustus 2019 / 22:34 WIB

Kata ekonom INDEF tentang dampak perlambatan ekonomi Papua terhadap PDB nasional
ILUSTRASI. Bhima Yudhistira Adhinegara

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Papua dan Maluku hingga kuartal II-2019 mengalami kontraksi sebesar 13,12%. Bahkan peran Papua dan Maluku terhadap PDB juga relatif kecil, yakni hanya 2,17%. Namun, INDEF menganggap dampak penurunan ekonomi kawasan Papua akan dirasakan oleh ekonomi Indonesia.

"Meski kecil peranannya, tapi dampak penurunan ekonomi kawasan Papua akan menjalar ke daerah penyangga lainnya," kata Ekonom INDEF Bhima Yudhsitira saat dihubungi Kontan.co.id pada Jumat (30/8).

Bhima mengambil contoh produk tambang maupun kayu dan juga hasil pertanian Papua yang banyak dikirim ke Sulawesi. Ketika ekonomi Papua melemah dan terjadi penurunan produk komoditas tersebut, maka bisa menurunkan pertumbuhan di Sulawesi.

Baca Juga: BI: Kenaikan iuran BPJS Kesehatan tidak akan berdampak pada inflasi

Bukan hanya Papua sebagai pemasok, tetapi banyak bahan makanan dari Jawa Timur yang dikirim ke Papua. Saat ekonomi Papua terkontraksi dan permintaan berkurang, maka akan dirasakan juga oleh ekonomi Jawa Timur.

Lalu bila dilihat dari kondisi Papua yang saat ini sedang terjadi konflik, ini dianggap Bhima bisa memperparah kondisi ekonomi di Papua.

"Kita lihat dari sisi investasi, misal ada investor yang mau masuk ke Papua khususnya perusahaan asing yang kantor pusatnya di Jakarta. Namun, melihat kondisi Papua yang sedang chaos, lalu tidak jadi berinvestasi. Siapa yang terkena dampaknya? PDB nasional juga," tambah Bhima.

Baca Juga: Ekonom Core sebut emas menjadi salah satu pemicu inflasi Agustus

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Bhima memandang Pemerintah bisa memperbaiki Papua dengan memberikan stabilitas politik dalam jangka panjang dan harus bisa menyelesaikan konflik sosial yang sudah mengakar.

Ini bisa dilakukan dengan rekonsiliasi dengan pihak yang bertikai. Beri juga jaminan keamanan karena ini krusial. Tidak akan ada investor yang tertarik masuk kalau masih ada kekerasan bersenjata.

Lalu, untuk selanjutnya pemerintah bisa mendorong investasi di sektor manufaktur, khususnya pengolahan produk pertanian dan perikanan.

Baca Juga: Perkembangan perang dagang mendominasi pergerakan rupiah sepekan ini

Motor utama sektor pariwisata juga bisa digerakkan, dengan diberi insentif misalnya pembangunan sarana prasarana pariwisata, promosi, dan pengembangan sekolah vokasi pariwisata.

"Karena kekayaan alamnya yang bisa dijadikan sebagai daya tarik, Pemerintah harus lebih mengembangkannya. Ini bisa membantu mendorong pertumbuhan ekonomi di Papua," tambah Bhima.


Reporter: Bidara Pink
Editor: Yoyok

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×