kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Kadin Beri Catatan Rencana Penyaluran Batubara dan Gas ke Pembangkit via BLU


Minggu, 23 Agustus 2026 / 14:54 WIB
Kadin Beri Catatan Rencana Penyaluran Batubara dan Gas ke Pembangkit via BLU
ILUSTRASI. Erwin Aksa (DOK/KADIN)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti terkait rencana pemerintah yang tengah mempersiapkan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai kewajiban penyaluran batubara dan gas bumi ke pembangkit listrik melalui Badan Layanan Umum (BLU).

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menyatakan, pada prinsipnya Kadin memahami tujuan pemerintah untuk memastikan pasokan energi primer bagi pembangkit listrik lebih terjamin dari sisi volume, harga, maupun kontinuitas pasokan demi keandalan listrik nasional.

Meski demikian, Kadin mengingatkan agar desain kebijakan tersebut dibuat secara hati-hati apabila nantinya seluruh penyaluran energi diwajibkan melalui BLU. Jangan sampai tujuan untuk menyederhanakan serta menjamin pasokan justru menambah satu mata rantai baru dalam transaksi energi nasional.

"Dari sisi positif, BLU berpotensi menjadi instrumen pemerintah untuk melakukan agregasi kebutuhan sehingga pasokan energi untuk pembangkit dapat direncanakan lebih baik. Pemerintah juga dapat mempunyai visibilitas yang lebih jelas mengenai kebutuhan, ketersediaan, harga dan distribusi batubara maupun gas," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (23/8/2026).

Baca Juga: Pasokan Batubara 212 Juta Ton: Jadi Antisipasi Pemerintah Jaga Keandalan Listrik PLN

Di sisi lain, Erwin membeberkan sejumlah risiko yang patut diwaspadai, mulai dari potensi BLU menjadi single buyer yang memicu bottleneck, risiko tambahan biaya transaksi, hingga perbedaan karakteristik teknis antara batubara dan gas yang tidak bisa dipaksakan menggunakan satu mekanisme yang terlalu seragam.

Atas dasar tersebut, Erwin menekankan, penentu keberhasilan kebijakan ini diukur dari terjaminnya keamanan pasokan energi, efisiensi biaya, serta daya tarik investasi.

Ke depan, kata dia, fungsi BLU sebaiknya difokuskan untuk mengatasi kegagalan pasar (market failure) ketimbang mengambil alih seluruh fungsi komersial yang sudah berjalan efisien.

Baca Juga: Kementerian ESDM Tegaskan Impor Minyak Bisa lewat Pertamina dan BLU

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×