Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan masyarakat mengenai dampak penggunaan tembakau terhadap kesuburan pria dan wanita. Merokok tidak hanya meningkatkan risiko penyakit tidak menular, tetapi juga berkaitan dengan infertilitas serta gangguan fungsi reproduksi.
Peringatan tersebut disampaikan WHO melalui ringkasan bukti ilmiah bertajuk *Tobacco and infertility* yang diterbitkan pada 8 September 2026. Laporan itu merangkum bukti penelitian selama puluhan tahun mengenai hubungan antara penggunaan tembakau dan gangguan kesuburan.
WHO menegaskan bahwa berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting bagi individu maupun pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.
“Bagi siapa pun yang merencanakan kehamilan, pesan kami adalah, berhentilah merokok, tingkatkan kesehatan Anda, serta tingkatkan pula kesehatan reproduksi Anda,” kata Dr Kerstin Schotte, Pejabat Medis WHO Tobacco Free Initiative, dalam keterangan WHO.
WHO mendefinisikan infertilitas sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih berhubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Kondisi ini diperkirakan dialami satu dari enam orang usia reproduktif di dunia.
Tonton: Pertamax Terancam Tembus Rp20000, Harga Minyak Dunia Makin Panas
Risiko infertilitas wanita perokok naik 40%
Salah satu temuan utama laporan WHO berkaitan dengan risiko infertilitas pada perempuan yang merokok.
Berdasarkan tinjauan sistematis terhadap studi yang dilakukan sepanjang 2000 hingga 2026, perempuan yang masih merokok memiliki risiko infertilitas 40% lebih tinggi dibandingkan perempuan yang tidak merokok.
Sementara itu, perempuan yang pernah merokok tetapi sudah berhenti memiliki risiko infertilitas 25% lebih rendah dibandingkan mereka yang tetap merokok.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa berhenti merokok dapat memberikan perbedaan bermakna terhadap kesehatan reproduksi dan peluang kehamilan.
Meski demikian, angka tersebut merupakan perbandingan risiko dalam hasil penelitian, bukan jaminan bahwa setiap perempuan yang berhenti merokok akan langsung hamil.
Rokok juga mengganggu kualitas sperma pria
WHO menegaskan bahwa infertilitas bukan hanya persoalan kesehatan perempuan. Penggunaan tembakau juga berkaitan dengan gangguan reproduksi pada laki-laki.
Tinjauan terhadap 44 studi yang melibatkan lebih dari 60.000 pria menemukan hubungan antara merokok dan gangguan fungsi reproduksi, termasuk kelainan semen serta disfungsi seksual.
Pria yang merokok lebih berisiko mengalami sejumlah masalah, antara lain:
* Disfungsi ereksi.
* Gangguan ejakulasi.
* Tidak adanya sperma dalam air mani.
* Pergerakan sperma yang buruk.
* Bentuk sperma yang abnormal.
Berbagai gangguan tersebut dapat memengaruhi kemampuan reproduksi pria. WHO juga mengidentifikasi potensi risiko terhadap kesuburan pria pada penggunaan rokok pipa air atau shisha.
Peluang keberhasilan bayi tabung bisa berkurang
Dampak merokok terhadap kesuburan juga perlu diperhatikan oleh pasangan yang menjalani program bayi tabung atau *in vitro fertilization* (IVF).
WHO mengutip penelitian yang mencakup 21 studi mengenai prosedur reproduksi berbantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merokok berkaitan dengan jumlah kehamilan dan kelahiran hidup yang lebih sedikit setelah menjalani prosedur seperti IVF.
Dalam penelitian tersebut, peluang keberhasilan sejumlah hasil reproduksi berbantu pada perokok disebut dapat berkurang hingga sekitar setengahnya.
Artinya, kebiasaan merokok berpotensi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasangan ketika mempersiapkan program kehamilan.
Baca Juga: Pemerintah Akan Tanggung Gaji 30.000 Manajer Kopdes Merah Putih Selama Dua Tahun
Perokok pasif juga menghadapi risiko
WHO turut mengingatkan bahaya paparan asap rokok bagi orang yang tidak merokok.
Paparan asap tembakau dari orang lain dapat meningkatkan risiko gangguan reproduksi. Pada perempuan, perokok pasif dikaitkan dengan peningkatan risiko infertilitas dan peluang kehamilan yang lebih rendah pada setiap bulan ketika mencoba hamil.
Dengan demikian, risiko terhadap kesuburan tidak hanya dihadapi oleh orang yang mengonsumsi rokok secara langsung.
WHO menyebut bukti ilmiah mengenai dampak rokok konvensional terhadap kesuburan saat ini paling kuat. Sementara itu, bukti mengenai rokok elektrik atau vape, shisha, serta produk tembakau tanpa asap masih terus berkembang.
Meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan, produk tembakau dan nikotin tersebut tetap berpotensi menimbulkan risiko terhadap kesehatan reproduksi.
Baca Juga: Harga Minyak Melambung di Atas US$ 100 Per Barel, APBN Kita Aman?
WHO dorong berhenti merokok sebelum merencanakan kehamilan
Melalui laporan tersebut, WHO merekomendasikan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi mengenai risiko penggunaan tembakau kepada individu dan pasangan yang merencanakan kehamilan.
Tenaga kesehatan juga didorong menyediakan dukungan berbasis bukti agar pengguna tembakau dapat berhenti merokok.
WHO menyarankan agar edukasi singkat mengenai berhenti merokok diberikan secara konsisten kepada pengguna tembakau di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan infertilitas sekaligus menjaga kesehatan reproduksi pria dan wanita.
Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, berhenti merokok menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesuburan.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/12/210000365/pernyataan-kemenkes-terkait-temuan-terbaru-who-rokok-berisiko-merusak?page=all#page2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














