kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

JK: Pejabat takut KPK, pertumbuhan ekonomi lambat


Selasa, 02 Desember 2014 / 13:56 WIB
ILUSTRASI. Meski masuk papan pemantauan khusus, BEI tetap membolehkan saham-saham yang tidak terkena suspensi untuk diperdagangkan dengan mekanisme call auction. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap penegakan korupsi diimbangi dengan keberanian pejabat menjalankan amanah. Sebab, jika tidak dampak penegakan korupsi hanya akan membuat perekonomian negara terganggu.

Dalam konferensi nasional pemberantasan korupsi (KNPK) tahun 2014, JK menjelaskan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membuat takut pejabat untuk berbuat korupsi. Namun di sisi lain, ketakutan itu menyebabkan para pejabat ragu-ragu dalam membuat keputusan.

Ia mencontohkan sejumlah direktur jenderal (Dirjen) di kementerian mengeluhkan, aktivitas pemerintahan menjadi lebih lambat. Sebab, prosedurnya menjadi lebih berbelit. "Gubernur-gubernur, menteri dan dirjen menjadi takut untuk berbuat, sehingga (pekerjaan) melambat," ujar JK, Selasa (2/12) di Jakarta.

Lebih lambatnya pekerjaan dan operasional pemerintahan berdampak terhadap pembangunan dan perekonomian nasional. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi turun atau rendah. Oleh karenanya, menurut JK pemberantasan korupsi harus bisa menyelamatkan uang negara, serta tetap mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi.

JK berharap, dalam upaya pemberantasan korupsi maka kebijakan atau diskresi tidak menjadi bagian dari pemeriksaan atau tuntutan. Jika kebijakan jadi bagian dari kejahatan, maka tidak akan ada lagi orang yang memiliki kewenangan mau mengambil keputusan.

Jika sebagian besar pejabat tidak mau mengambil kebijakan, maka negara tidak akan berjalan sebagai mana mestinya. Dampaknya, negara dan masyarakat akan mengalami kesulitan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×