kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Jembatan Selat Malaka belum perlu ditawarkan


Rabu, 12 September 2012 / 07:03 WIB
ILUSTRASI. Promo Lotte Mart weekday 26 Juli 2021 masih bisa para pencari diskon manfaatkan. Dok: Instagram Lotte Mart


Reporter: Oginawa R Prayogo | Editor: Dadan M. Ramdan

JAKARTA. Pemerintah Provinsi Riau sudah mengusulkan proyek Jembatan Selat Malaka (JSM) agar masuk dalam proyek konektivitas ASEAN. Tapi, naga-naganya usulan tersebut tak disetujui pemerintah pusat.

Pemerintah menilai, secara ekonomi, proyek jembatan tersebut bakal lebih menguntungkan negara lain ketimbang Indonesia. Apalagi, kondisi ekonomi di wilayah Sumatera belum terlalu kuat.

Jadi, Deputi Menteri Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kementerian Koordinator Perekonomian, Luky Eko Wuryanto mengatakan, tidak usah terburu-buru mewujudkan proyek Jembatan Selat Malaka, sebelum perekonomian di kawasan Sumatera kuat. "Proyek itu belum perlu sebelum perekonomian Sumatera terintegrasi dan Jembatan Selat Sunda dibangun," jelasnya, kemarin.

Menurutnya, proyek yang ditawarkan dalam konektivitas ASEAN harus menguntungkan Indonesia. "Konektivitas tersebut bentuknya pembangunan kawasan maritim Indonesia bukan melulu daratan," jelas Luky.

Makanya, rencana kesepakatan konektivitas ASEAN tahun 2015 mendatang harus sejalan dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), bukan sebaliknya. Asal tahu saja, pemerintah fokus merintis keterhubungan di antara enam koridor ekonomi yang ada dalam MP3EI, terutama kawasan timur Indonesia.

Suryo Bambang Sulisto, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) juga berharap proyek di enam koridor ekonomi diwujudkan terlebih dulu. Bila ini berjalan, dapat mengubah peta industri yang selama ini terpusat di kawasan barat Indonesia. "Indonesia harus andalkan angkutan laut, karena merupakan negara maritim," tuturnya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menambahkan, kunci menghadapi ASEAN connectivity adalah kesiapan dan daya saing Indonesia. "Negara lain sudah siap tapi kita masih belum siap," kata Agus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×