kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Jamaah Haji Diimbau Tak Paksakan Ibadah Sunnah Jelang Armuzna


Kamis, 14 Mei 2026 / 12:32 WIB
Jamaah Haji Diimbau Tak Paksakan Ibadah Sunnah Jelang Armuzna
ILUSTRASI. Jamaah lansia diimbau bijak jaga fisik jelang puncak haji. (ANTARA FOTO/Citro Atmoko)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - MADINAH. Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jamaah haji Indonesia, terutama kalangan lanjut usia (lansia), diimbau untuk lebih bijak menjaga kondisi fisik dan stamina.

Jamaah disarankan tidak memaksakan diri menjalankan ibadah sunnah, seperti mengejar salat arbain di Masjid Nabawi maupun memperbanyak umrah sunnah di Masjidil Haram, demi menjaga kesiapan menghadapi rangkaian ibadah wajib haji yang cukup berat secara fisik.

Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, KH Muhammad Cholil Nafis, menegaskan bahwa jamaah yang sudah memiliki niat menjalankan ibadah sunnah tetap akan memperoleh pahala meski tidak dapat melaksanakannya karena uzur, seperti kondisi kesehatan atau imbauan menjaga stamina.

"Karena dia sudah ada niat baik tapi terhalang oleh uzur," kata Kiai Cholil, kepada Media Center Haji, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga: DPR Usul Pesawat Haji Maksimal 15 Tahun, Alvin Lie: Kelaikudaraan Lebih Penting

Menurut Kiai Cholil, jamaah lansia sebaiknya tidak memaksakan diri datang ke Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi hanya demi mengejar ibadah sunnah. Ia menjelaskan, menjalankan salat di hotel yang masih berada dalam lingkungan area masjid tetap memiliki nilai ibadah yang baik, khususnya bagi jamaah dengan keterbatasan fisik.

"Meskipun qaol (pendapat) yang rojih (dapat dipertanggungjawabkan) itu tetap shalat di masjid, namun jika sudah niat shalat di masjid tetapi terhalang oleh uzur itu maka dia sudah dapat pahala," kata Kiai Cholil.

Imbauan serupa disampaikan Musyrif Diny lainnya, Prof Asrorun Ni'am Sholeh. Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu meminta jamaah memprioritaskan pelaksanaan rukun haji, khususnya wukuf di Arafah, dibanding memforsir tenaga untuk ibadah sunnah.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak memiliki pola pikir “aji mumpung” dengan memperbanyak umrah atau thawaf hingga menguras kondisi fisik sebelum Armuzna.

"Umrah ya sewajarnya, thawaf juga sewajarnya saja bagi yang memiliki keterbatasan fisik. Gak usah dipaksakan tetapi tetap menjalankan ibadah karena kita berada di pemondokan tanah haram itu juga adalah tanah suci," ujar Ni'am.

Baca Juga: Menuju Puncak Haji, Bank Syariah Indonesia Sumbang 300 Unit Kursi Roda

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sekaligus Musyrif Diny, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, juga mengingatkan jamaah agar menjaga kesehatan dan tidak menguras tenaga sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah.

Menurut dia, inti utama ibadah haji adalah wukuf di Arafah sehingga jamaah perlu menyiapkan kondisi fisik dan finansial secara matang.

"Jadi kita harus ada persiapan matang baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu kita jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah (wukuf di) Arafah, Al-Hajju Arafah," kata Kiai Kafabihi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×