Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di hari pertama menyimpulkan bahwa Indonesia tetap menarik bagi investor internasional di Di tengah fragmentasi ekonomi global dan ketidakpastian pasar. Stabilitas makroekonomi, konsistensi kebijakan, serta komitmen terhadap integrasi pasar global menempatkan Indonesia sebagai tujuan investasi yang kompetitif dan berjangka panjang.
Daya tarik tersebut didukung faktor struktural seperti stabilitas ekonomi, demokrasi yang relatif matang, bonus demografi muda, serta pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Fondasi makro yang solid dan agenda reformasi berkelanjutan membuat Indonesia dipandang memiliki arah kebijakan yang jelas serta kapasitas menangkap peluang investasi jangka menengah dan panjang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan berbagai pencapaian terkait indikator makro ekonomi maupun kemajuan signifikan dalam negosiasi perdagangan Indonesia.
Baca Juga: Stimulus Rp 12 Triliun Diprediksi Tak Signifikan Dongkrak Ekonomi Kuartal I 2026
"Sebagian besar negosiasi perdagangan telah diselesaikan, dengan Kanada, dengan UE, dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), dan kami sedang dalam proses menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat (AS),” ungkap Airlangga, Selasa (3/2/2026).
Dia bilang, Indonesia juga memperoleh komitmen pendanaan JETP sebesar US$21,4 miliar dari negara G20, dengan realisasi sekitar US$3,5 miliar. Australia menyatakan rencana investasi, sementara kerja sama regional dijajaki dengan Sarawak Air Malaysia untuk konektivitas pariwisata di luar Jakarta dan Bali, serta dengan Singapura dalam pengembangan kawasan ekonomi khusus dan program digital.
“Ini menunjukkan besarnya modal yang berada dalam pipeline investasi Indonesia,” ujar Airlangga. Ia juga memaparkan agenda reformasi pasar modal yang berfokus pada efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum, yang mendapat respons positif dari pasar dengan kembalinya indeks ke zona hijau.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council, Arsjad Rasjid, menegaskan IES 2026 menjadi platform strategis untuk memperkuat kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global berlapis, dengan fokus pada tiga pilar utama: kepastian, kapabilitas, dan modal.
Baca Juga: Pemulihan Ekonomi Makin Solid, Menkeu Minta Investor Tak Khawatir
Dalam rangkaian IES 2026, diluncurkan pula inisiatif Business 57+ (B57+) Asia-Pacific Regional Chapter untuk memperkuat konektivitas ekonomi negara-negara Islam dan mitra strategisnya, dengan Indonesia sebagai simpul utama kerja sama di kawasan Asia-Pasifik.
Sementara Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel menyebut B57+ sebagai inisiatif kolektif dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan untuk membangun masa depan kemanusiaan yang lebih baik, sejalan dengan komitmen reformasi dan penguatan infrastruktur digital di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan.
Chief Economist IBC Denni Purbasari menilai Indonesia memiliki daya tarik kuat bagi investasi global sebagai negara demokrasi dengan populasi muda besar dan pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5,1–5,2%. Komitmen pemerintah terhadap keterbukaan dan reformasi, serta stabilitas makroekonomi dan politik, mendorong masuknya investasi asing, baik langsung maupun portofolio.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025 Diproyeksi Membaik, Ini Penopangnya
Menurut Denni, program prioritas pemerintah di sektor ketahanan pangan, energi, dan kesehatan membuka peluang kemitraan luas dengan investor global. Peluang investasi tidak hanya pada rantai pasok kendaraan listrik, tetapi juga sektor pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, perikanan, energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan, hingga pendidikan dan vokasi.
IES merupakan forum ekonomi tahunan IBC yang membahas tren ekonomi, prioritas strategis, dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. IES 2026 dihadiri delegasi dari lebih dari 50 negara, termasuk Singapura, Australia, Jepang, Inggris, China, Eropa, dan Asia Tengah, yang menegaskan minat investor global terhadap pasar Indonesia tetap kuat.
Selanjutnya: Pejabat The Fed Dorong Pemangkasan Suku Bunga Secara Agresif Tahun Ini
Menarik Dibaca: Jadwal Arsenal vs Chelsea (4/2): Duel Penentu Tiket Final Piala EFL di Emirates
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













