kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.996.000   8.000   0,27%
  • USD/IDR 16.945   -72,00   -0,42%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

BI Ingatkan Perlambatan Ekonomi Global Bisa Mengerek Defisit Transaksi Berjalan


Rabu, 18 Maret 2026 / 11:28 WIB
BI Ingatkan Perlambatan Ekonomi Global Bisa Mengerek Defisit Transaksi Berjalan
ILUSTRASI. BI ingatkan dampak prospek pertumbuhan ekonomi global yang melambat ke 3,1% bisa memperlebar defisit transaksi berjalan. (KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengingatkan dampak prospek pertumbuhan ekonomi global yang melambat ke 3,1%, serta meningkatnya harga minyak imbas konflik di Timur Tengah yang bisa memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Harga minyak dunia ditutup melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (17/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran kembali melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA).

Melansir Reuters, harga minyak acuan global Brent naik US$ 3,21 atau 3,2% ke level US$ 103,42 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,71 atau 2,9% ke US$96,21 per barel.

Baca Juga: BI Sudah Borong SBN Rp 86,1 Triliun hingga Maret 2026, Ini Tujuannya

Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan, dampak keduanya dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9% sampai dengan 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dalam kaitan itu, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran dan ketahanan eksternal, termasuk membangun kepercayaan investor global, akan terus ditingkatkan,” tutur Perry dalam konferensi pers, Selasa (17/3/2026).

Sebelumnya, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan, Bank Permata Faisal Rachman menghitung, jika harga minyak dunia berada di kisaran US$ 75 hingga US$ 90 per barel, maka CAD Indonesia berpotensi berada di kisaran 0,7% hingga 1,0% dari PDB.

“Namun, jika harga minyak ke atas US$ 100 per barel maka CAD akan melebar ke atas 1% dari PDB,” tutur Faisal kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).

Adapun pada pada kuartal IV 2025 CAD tercatat sebesar US$ 2,5 miliar atau 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini berbalik dari kuartal III 2025 yang mencatat surplus US$ 4,0 miliar atau 1,1% dari PDB.

Baca Juga: Ditjen Pajak: Sebanyak 8,5 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT Tahunan Per 17 Maret 2026

Faisal menilai dampak kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya negatif bagi neraca perdagangan Indonesia. Pasalnya, kenaikan harga minyak biasanya diikuti oleh peningkatan harga komoditas lain, seperti batu bara, yang menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia.

Kendati demikian, Faisal mengingatkan bahwa dampak positif dari kenaikan harga komoditas kemungkinan tetap terbatas. Hal ini sejalan dengan melemahnya permintaan global di tengah perlambatan ekonomi China serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang cenderung melambat.

Sejalan dengan itu, ia memperkirakan, dengan melebarnya CAD, akan otomatis melemahkan nilia tukar rupiah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×