kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Ini saran Rokhmin Dahuri untuk presiden berikutnya


Jumat, 21 Februari 2014 / 21:42 WIB
ILUSTRASI. Penjualan Apartemen: Maket pembangunan gedung apartemen dan perkantoran di Jakarta Selatan, Senin (11/7/2022). KONTAN/Baihaki/11/07/07


Reporter: Risky Widia Puspitasari | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi produksi perikanan terbesar di dunia, yaitu sekitar 65 juta ton per tahun. Sementara, potensi perikanan yang baru dimanfaatkan saat ini baru 13,62 juta ton atau sekitar 21 % saja. Masih kalah jauh dengan produktivitas China yang meskipun wilayah lautnya hanya menduduki peringkat ketujuh.

Untuk itu, Ketua Pengembangan Ekonomi Maritim Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rokhmin Dahuri menyarankan Presiden Indonesia terpilih berikutnya untuk bisa mengoptimalkan potensi tersebut.

Menurutnya, sayang jika potensi besar tetapi dicuri oleh orang lain. Jadi kata dia, dalam menjaga kekayaan laut jangan hanya mengandalkan security approach, tetapi juga melalui cara-cara ekonomi produktif. Diantaranya dengan meningkatkan kemampuan SDM dan perbaikan infrastruktur.

“Kalau mau lawan ilegal fishing harus pakai strategi, sekarang di lapangan kapal kurang, nelayan bisa disogok duit,” ujarnya saat ditemui di Diskusi Laut dan Perikanan di Menara Kadin, Jumat (21/2).

Selain itu, untuk menjaga kekayaan laut pemanfaatan teknologi harus dimaksimalkan. Misalnya dengan melalui cara bioteknologi atau nano teknologi. Penggunaan bioteknologi bisa dengan cara ekstrasi senyawa bioaktif dari biota laut.

“Bahan tersebut digunakan untuk bahan baku industri makanan, minuman, farmasi, kosmetika dan lainnya,” ujarnya.

Tidak hanya ekstraksi senyawa bioaktif, cara rekayasa genetik untuk menghasilkan bibit dan benih unggul pun bisa dilakukan untuk mendapatkan produksi perikanan yang baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×