kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Ini Penyebab Melambatnya Pertumbuhan Serapan Tenaga Kerja di 2025


Kamis, 15 Januari 2026 / 20:36 WIB
Ini Penyebab Melambatnya Pertumbuhan Serapan Tenaga Kerja di 2025
ILUSTRASI. David Sumual (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, menurunnya kualitas penyerapan tenaga kerja dari realisasi investasi sepanjang 2025 disebabkan penyerapan investasi yang lebih banyak mengalir ke sektor-sektor padat modal dibandingkan sektor padat karya.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat sepanjang 2025, penyerapan tenaga kerja tercatat mencapai 2,71 juta orang atau tumbuh 10,4% yoy.

Meski meningkat, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan 2024 yang mencatatkan pertumbuhan 34,7% yoy dengan penyerapan 2,46 juta tenaga kerja.

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri: Inflasi Terkendali Jadi Penopang Konsumsi Domestik

Berdasarkan perhitungan Kontan, untuk menyerap satu tenaga kerja pada 2025 dibutuhkan investasi sekitar Rp 712,48 juta, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang hanya sekitar Rp 673,25 juta per tenaga kerja.

Sementara itu jika melihat sub sektor, investasi lebih banyak masuk ke hilirisasi mineral, yakni mencapai Rp 373,1 triliun, kemudian sektor hilirisasi minyak dan gas bumi sebesar Rp 60 triliun. 

David menjelaskan, dengan struktur investasi tersebut, membuat penyerapan tenaga kerja menjadi menurun.

“Akibatnya, penyerapan tenaga kerja menjadi relatif lebih rendah,” ujar David kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).

Meski demikian, David tetap optimistis terhadap prospek investasi pada 2026. Ia menilai momentum investasi masih berpeluang terjaga, terutama melalui perluasan program hilirisasi domestik yang terus mendorong masuknya investasi baru. 

Selain itu, peran Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia dinilai akan mempercepat investasi strategis nasional.

Dari sisi eksternal, David menyebut kesepakatan dagang seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) berpotensi meningkatkan arus investasi asing ke Indonesia, meskipun risiko ketidakpastian global masih membayangi. 

Baca Juga: Ekonom BCA Sebut Ketidakpastian Global Buat Investor Asing Tahan Ekspansi ke RI

"Selain itu, pelonggaran the Fed juga berpotensi menambah likuiditas global dan mendorong arus dana masuk ke Indonesia," pungkas David.

Pelonggaran kebijakan moneter The Fed juga diperkirakan dapat menambah likuiditas global dan mendorong aliran dana masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selanjutnya: ElectGo Ekspansi ke Platform E-Commerce, Fokus Produk Industri Komponen Listrik

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Sini, Cek Peringatan dini BMKG Cuaca Besok (16/1) Jabodetabek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×