Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan tinggi tahun 2025, paling tidak hingga semester pertama ini. Hal itu akan membuat pasar bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan berita yang ada.
David Sumual, Chief of Economist BCA mengatakan, outlook pasar berkaitan erat dengan prospek likuiditas. Naik turunnya likuiditas akan mempengaruhi aktivitas ekonomi. Ia bilang, ketidakpastian yang tinggi akan membuat kepercayaan pasar berkurang dan itu akan menurunkan likuiditas.
“Selama deal-deal soal tarif impor di AS belum tercapai maka pasar akan terus fluktuatif. Kondisi akan berpengaruh ke Indonesia, likuiditas akan pindah dari fixed income ke safe heaven. Selama itu belum tercapai, pertumbuhan ekonomi masih akan flat,” jelas David, Sabtu (22/2).
Meski ketidakpastian global masih tinggi, David tetap optimistis ekonomi Indonesia bisa didorong tumbuh di atas 5%. Menurutnya, kebijakan refocusing ke sektor tertentu yang dilakukan pemerintah bisa mendorong ekonomi.
Hanya saja, kata dia, kunci utamanya ada pada percepatan eksekusi kebijakan. Jika implementasinya lambat maka ekonomi juga akan sulit dipacu.
Baca Juga: Peran Pebisnis dalam Pertumbuhan Ekonomi
David melihat kebijakan pemerintah yang difokuskan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program perumahan akan mendorong pertumbuhan sektor-sektor turunannya.
Dia bilang, program MBG akan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pergudangan, logistik, dan transportasi. Sedangkan program 3 juta rumah memiliki lebih banyak sektor turunan yang akan diuntungkan.
Namun, David mengingatkan pemerintah juga perlu memberikan dukungan terhadap sub sektor properti agar program 3 juta rumah bisa efektif berkontribusi mendorong ekonomi nasional.
“Kalau sub sektor pendukungnya tidak kuat, program itu bisa berefek pada lonjakan impor. Jadi, perlu diberikan insentif untuk mendukung pengembangan manufaktur di sektor turunan properti,” tandasnya.
Baca Juga: Masih Dibayangi Kebijkan Impor Trump, Begini Proyeksi Rupiah, Jumat (21/2)
Menurutnya, insentif yang bisa diberikan bisa berupa insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) dan insentif perpajakan dan kemudahan impor dalam membangun pabrik.
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) akan memberikan tambahan likuiditas ke perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor perumahan tahun ini lewat insentif KLM sebesar Rp 80 triliun.
Insentif KLM ini berupa diskon penempatan giro wajib minimum (GWM) yang normalnya 9% dari total dana pihak ketiga (DPK) bank. Diskon yang diberikan mencapai hingga 5%.
Menurut David, insentif KLM tersebut perlu dipertajam untuk sektor turunan properti atau kalau perlu ditambah lagi besaran insentifnya. “Bisa ditambah baru atau isentif Rp 80 triliun yang sudah ada dirinci lagi,” ujarnya,
Selain itu, David menilai kebijakan baru terkait penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto telah meneken PP 8 Tahun 2025 yang mewajibkan eksportir menyimpan 100% DHE di dalam negeri dalam jangka waktu satu tahun. Aturan ini berlaku mulai 1 Maret 2025 dan wajib dilaksanakan oleh eksportir sektor pertambangan.
Baca Juga: Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Genjot Hilirisasi Petrokimia dan Gas
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menambah setoran DHE hingga US$ 80 miliar pada tahun ini. David memperkirakan kebijakan itu bisa dileverage dan menambah likuiditas ke pasar sekitar Rp 1.300 triliun- Rp 1.600 triliun untuk mendanai berbagai proyek.
“Sekarang tinggal dicari apa proyek yang menarik yang bisa mendorong perekonomian dalam jangka panjang. Jadi kalau itu bisa dileverage maka akan mendorong ekonomi bisa tumbuh di atas 5%. Tapi, itu akan lagi pada implementasi dan pengawasannya.” pungkas David.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News