kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ini kata ekonom Samuel Aset Manajemen soal urgensi BSA bagi Indonesia


Minggu, 13 Oktober 2019 / 18:55 WIB
Ini kata ekonom Samuel Aset Manajemen soal urgensi BSA bagi Indonesia
Chief Economist Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih

Reporter: Bidara Pink | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memiliki garis pertahanan dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, antara lain cadangan devisa (cadev) dan juga fasilitas swap arrangement, salah satunya dengan bilateral swap arrangement (BSA).

Namun, akhir-akhir ini cadev terus tergerus. Bahkan yang terbaru, posisi cadev Indonesia ada sebesar US$ 124,3 miliar, atau turun US$ 2,1 miliar dari bulan Agustus 2019 yang sebesar US$ 126,4 miliar.

Lalu, apakah dengan kondisi penurunan cadev saat ini, Indonesia akhirnya perlu mengambil BSA?

Baca Juga: Ada BSA, Ekonom BCA: Indonesia masih belum perlu menggunakannya

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih memandang bahwa saat ini Indonesia masih belum terlalu perlu untuk memakai BSA tersebut, karena BI dipandang masih merasa yakin kalau tidak ada gejolak yang signifikan dari rupiah sendiri.

Lana lalu menambahkan, bahwa penggunaan basis pertahanan kedua tersebut biasanya digunakan oleh negara yang sedang mengalami krisis, dan Indonesia tidak sedang mengalami krisis.

"BSA itu dipakai kalau memang kondisinya sudah mendesak. Misalnya, cadev kita turun sampai di bawah US$ 100 miliar. Sebelum kita minta ke IMF, kita bisa menggunakan BSA dulu," kata Lana kepada Kontan.co.id, Minggu (13/10).

Baca Juga: Yakin Nego Dagang AS-China Tercipta Kesepakatan, Kurs Rupiah Hari Ini Menguat Tipis

Namun, rupanya Lana memandang bahwa BSA ini tidak terlalu menguntungkan, apalagi dengan adanya sistem bayar fee, meski Indonesia tidak menggunakan BSA tersebut. "Buat apa kita bayar fee untuk sesuatu yang tidak kita gunakan? Rugi, dong," ujar Lana.

Oleh karena itu, Lana memandang lebih baik BSA ini dikombinasikan dengan obligasi pemerintah sehingga akhirnya bertransformasi menjadi bond swap. Menurutnya, hal ini lebih efektif karena berpotensi untuk menambah cadev Indonesia, meski ini nantinya akan berbentuk utang.

Sebagai tambahan informasi, baru-baru ini, Indonesia telah menyepakati kerjasama keuangan dengan Malaysia, salah satunya dengan Local Currency Bilateral Swap Agreement (LCBSA) atau senilai US$ 2 miliar. Selain itu, ada juga perpanjangan LCBSA dengan Singapura senilai US$ 7 miliar.




TERBARU

×